Thursday, May 31, 2018

Sikatan Mugimaki, Si Burung Ocehan Migrasi yang Bersuara Merdu

Jenis burung Sikatan yang sering dipanggil dengan nama Tledekan ini tergolong jenis burung ocehan yang lazim dipelihara orang-orang dan diikutkan dalam berbagai ajang perlombaan. Hanya saja, jenis burung Sikatan yang dipelihara biasanya berhabitat asli di wilayah hutan kita. Padahal ada juga jenis burung Sikatan rutin bermigrasi ke wilayah hutan kita tapi mempunyai suara kicauan yang tak kalah merdu dan nyaring. Karenanya, penulis pun coba mengenalkan salah satu di antaranya agar kita semua bisa lebih mengetahuinya. Dan nama burung Sikatan tersebut adalah burung Sikatan Mugimaki.

Burung Sikatan Mugimaki merupakan salah satu jenis burung migrasi yang berasal dari keluarga Muscicapidae. Area persebaran yang menjadi habitat aslinya untuk berkembangbiak berada di kawasan Siberia, Tiongkok, Mongolia, Rusia, Korea. Selain itu, saat habitat aslinya sedang akan memasuki musim dingin biasanya kawanan burung Sikatan Mugimaki pergi bermigrasi sementara waktu menuju ke negara-negara yang beriklim tropis ataupun sedang tidak dilanda hujan salju seperti bagian tenggara Tiongkok, Filipina, Indonesia, dan beberapa negera lainnya di Asia Tenggara. Selain itu juga, daerah di Indonesia yang dijadikan rumah sementara bagi burung Sikatan Mugimaki banyak terdapat di kawasan Sunda Besar hingga Sulawesi.
Burung Sikatan Mugimaki 
Disamping itu, biasanya saat berada di alam liar burung Ficedula Mugimaki yang dipanggil dalam bahasa latin ini bergerak secara sendirian atau dalam kelompok kecil. Biasanya jenis makanan yang disantapnya cukup bervariasi baik itu jangkrik, ulat, kroto, buah-buahan, dan juga hewan invetebrata selain serangga. Hanya saja, mengingat kawasan hutan Indonesia bukanlah menjadi habitat aslinya sehingga tidak diketahui pasti terkait waktu berkembangbiak dan jumlah telur yang dieraminya.
Baca juga:
Adapun ciri fisik burung Sikatan Mugimaki terlihat tidak jauh beda dari jenis burung Sikatan lainnya yang berukuran sekitar 13 cm saja. Selain itu, terdapat perbedaan corak warna yang cukup mencolok antara jantan dan betinanya yang penjelasannya sebagai berikut:
1. Burung Sikatan Mugimaki jantan:
  • Berwarna hitam agak kusam yang menutupi bagian atas tubuhnya seperti mahkota kepala, sisi wajah, punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna putih yang terlihat dibagian atas matanya berupa garis panjang, pangkal dan tengah sayap, area belakang perut, hingga ke tunggirnya.
  • Berwarna jingga tua yang tampak dibagian tenggorokan, dada, dan pangkal perutnya.
  • Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam.
  • Paruhnya berwarna hitam yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  • Kakinya berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

2. Burung Sikatan Mugimaki betina:
  • Berwarna cokelat kusam yang tampak dibagian mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna jingga tua yang terdapat dibagian tenggorokan, dada, dan perutnya.
  • Berwarna putih polos yang hanya tampak dibagian perut dan tunggirnya saja.
Nah, setelah membicarakan karakter fisik burung Sikatan Mugimaki maka kita pun perlu mengenal ciri suara kicauannya. Ya, suara burung Sikatan Mugimaki lumayan nyaring dengan adanya getaran yang cukup lembut terdengar di telinga. Volume kicauannya tidak terlalu tinggi dengan tempo yang agak cepat. Nada kicauannya berupa: “trrrr...trrrr” yang diselingi dengan suara: “tii....tiii” secara terus-menerus dalam durasi sekitar setengah menitan.

Yup, walaupun burung Sikatan Mugimaki bukan burung penetap di wilayah hutan Indonesia tapi suara kicauannya juga terdengar lumayan merdu dan nyaring. Akan tetapi bagi yang tertarik untuk memeliharanya tentu cukup kesulitan memperolehnya dikarenakan keberadaannya cukup jarang terlihat di pasar burung ocehan. Karenanya Anda pun bisa mengunduh audio suaranya yang tersedia di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2013/03/12/sikatan-mugimaki/
https://www.hbw.com/species/mugimaki-flycatcher-ficedula-mugimaki
https://omkicau.com/2014/06/22/sikatan-mugimaki-si-mungil-yang-membuat-penasaran-kicaumania/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ficedula_mugimaki_2_-_Khao_Yai.jpg

Wednesday, May 30, 2018

Mengulik Lebih Jauh Tentang Burung Philentoma Sayap-merah

Berbicara tentang burung Philentoma Sayap-merah mungkin hanya sedikit dari pembaca yang pernah melihatnya secara langsung di alam liar. Ya, hal ini pun wajar karena memang hampir tidak ada yang memelihara atau melihatnya di pasar burung ocehan. Walaupun demikian, suara kicauannya terdengar mengalun merdu yang tak kalah bagus dibandingkan jenis burung ocehan yang sudah umum kita kenal. Begitu juga, dengan area persebarannya yang diketahui hanya terbatas di wilayah Asia Tenggara saja. Karenanya penulis pun tertarik untuk menguliknya lebih jauh lagi agar kita semakin mengenal burung Philentoma Sayap-merah.
Ilustrasi Burung Philentoma Sayap-merah
Burung Philentoma Sayap-merah merupakan salah satu jenis burung ocehan yang hanya memiliki dua jenis dan berasal dari keluarga Platysteiridae. Telah dikatakan bahwa area persebarannya hanya terpusat di kawasan Asia Tenggara yang meliputi negara Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesa saja. Selain itu, daerah di kawasan hutan Indonesia yang terdapat populasi burung Philentoma Sayap-merah tersebar mulai dari Sumatera, Kalimantan, dan Kepulauan Natuna. Dan juga, jumlah sub-spesiesnya tergolong sangatlah sedikit yang hanya dua jenis yakni pyrhoptera dan dubia.

Sedangkan kehidupan burung Philentoma Pyrhoptera yang dipanggil dalam bahasa latin ini berada di perbukitan dan pegunungan dengan rentang ketinggian bisa mencapai 1600 meter dpl. Area alam liar yang dihuninya pun berupa hutan primer, hutan sekunder, hutan kerangas, dan hutan rawa-gambut yang letaknya cukup jauh dari pemukiman masyarakat. Saat mencari makanan seringnya bergerak aktif dibagian lapisan tengah ataupun bawah hutan dengan menyantap hewan invetebrata termasuk serangga. Selain itu, waktu berkembangbiak yang biasanya dijalani burung Philentoma Sayap-merah dilakukan sekitar bulan Februari hingga September.
Baca juga:
Disamping itu, ciri fisik burung Philentoma Sayap-merah ini tergolong sedang dengan panjang sekitar 16 cm. Selain itu, terdapat keunikan tentang perbedaan corak warna yang mencolok sesama jenis jantan yang berbeda sub-spesies yang penjelasannya sebagai berikut:
1. Burung Philentoma Sayap-merah jantan biasa:
  • Berwarna biru tua yang menutupi bagian mahkota kepala, sisi wajah, pangkal punggung, pangkal dan sisi pinggir sayap, tenggorokan, dan pangkal dada.
  • Berwarna cokelat tua terlihat dibagian belakang punggung, sayap, dan atas ekornya.
  • Berwarna abu-abu kecokelatan yang terlihat dibagian perut sampai tunggirnya.
  • Paruhnya yang berwarna hitam pekat berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  • Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang agak tajam.
  • Ekornya berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.

2. Burung Philentoma Sayap-merah jantan biru:
  • Berwarna biru tua yang tampak dihampir seluruh bagian tubuhnya mulai dari mahkota kepala, tengkuk, punggung, sayap, tenggorokan, dada, pangkal perut, dan sayapnya.
  • Berwarna biru tua kehitaman yang hanya terlihat dibagian sisi pinggir sayapnya saja.
  • Lalu berwarna putih yang berupa bercak diarea perut hingga tunggirnya.

3. Burung Philentoma Sayap-merah betina:
  • Berwarna biru muda yang tampak dibagian mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, dan area pangkal dadanya.
  • Berwarna cokelat tua yang terdapat dibagian punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna putih bercampur cokelat yang terlihat dibagian tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
Nah, setelah membicarakan tentang ciri fisik burung Philentoma Sayap-merah maka kita pun juga perlu mengenali karakter suara kicauannya. Ya, suara burung Philentoma Sayap-merah lumayan nyaring dan agak melengking di telinga. Volume kicauannya tidak terlalu tinggi dengan tempo yang lumayan lambat dan terdengar mengalun lembut. Nada kicauan yang berupa: “tiu....hiiuuu” dibunyikan secara terus-menerus dengan karakter mirip siulan berirama panjang yang dimulai dari volume rendah hingga terus meninggi.

Yup, itulah kiranya yang bisa penulis sampaikan seputar burung Philentoma Sayap-merah yang habiatnya hanya tersebar di kawasan Asia Tenggara saja. Selain itu, mengngat masih sedikitnya yang mencoba memeliharanya maka ada baiknya memang kita tidak perlu memaksakan untuk merawatnya. Dan bagi Anda yang tertarik dengan suara kicauannya maka bisa mengunduhnya dari internet yang nantinya bisa dipergunakan untuk memaster atau memancing agar burung ocehan di rumah lebih aktif berkicau.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2013/03/06/philentoma-sayap-merah/
https://www.hbw.com/species/rufous-winged-philentoma-philentoma-pyrhoptera#Descriptive_notes

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Philentoma_pyrhoptera_1838.jpg

Tuesday, May 29, 2018

Cinenen Pisang, Si Burung Ocehan Mungil yang Bersuara Merdu

Jenis burung Cinenen yang tergolong ke dalam keluarga Sylviidae dikenal sebagai burung ocehan yang lumayan merdu dan nyaring. Hal ini diketahui dari mulai adanya yang berminat memelihara jenis burung Cinenen yang juga dimanfaatkan untuk memaster atau memancing agar burung ocehan lain lebih rajin berkicau. Selain itu, jenis burung Cinenen yang tersebar di wilayah hutan Indonesia tergolong lumayan banyak yang mencapai enam jenis dengan ukuran rata-rata cukup kecil atau mungil. Dan pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu di antaranya agar kita semakin mengetahuinya. Adapun nama burung Cinenen tersebut adalah burung Cinenen Pisang.

Burung Cinenen Pisang merupakan salah satu jenis burung Cinenen yang area persebarannya lumayan luas yang terdapat diberbagai kawasan Asia. Negara-negara yang menjadi habitat bagi burung Cinenen Pisang terdiri dari negara Pakistan, India, Sri Lanka, Nepal, Myanmar, Bhutan, Bangladesh, Tiongkok, Laos, Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia. Walaupun area persebarannya cukup luas tapi keberadaannya di wilayah hutan Indonesia hanya terdapat di Pulau Jawa saja. Mungkin karena itulah masih banyak di antara kita yang belum mengenal ataupun pernah melihatnya secara langsung di alam liar.
Burung Cinenen Pisang
Sedangkan keberadaan burung Cinenen Pisang yang terdapat di Indonesia banyak tersebar di area dataran tinggi dengan ketinggian mencapai 1500 meter dpl. Area alam liar yang menjadi rumahnya tergolong cukup luas yang meliputi hutan sekunder, hutan terbuka, dan pekarangan yang tidak jauh dari tempat tinggal masyarakat. Karakternya dikenal cukup aktif bergerak diantara semak belukar dan rimbunnya pepohonan. Biasanya jenis makanan yang rutin disantapnya berupa kroto serangga, ulat, jangkrik, kumbang, dan tempayak. Selain itu, burung Cinenen Pisang melakukan perkawinan berlangsung sekitar bulan April, September, dan Januari dengan jumlah telur sekitar tiga butir.
Baca juga:
Adapun ciri fisik burung Orthotomus sutorius yang dipanggil dalam bahasa latin ini lumayan kecil dengan panjang hanya mencapai 10 cm saja. Selain itu, ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya dibawah ini:

  1. Berwarna merah karat tua yang hanya terdapat dibagian mahkota kepalanya. Pada bagian mahkota kepalanya ditumbuhi bulu-bulu tebal yang berukuran agak panjang.
  2. Berwarna hijau zaitun kecokelatan yang tampak dibagian punggung, sayap, dan ekornya.
  3. Berwarna abu-abu kusam yang terlihat mendominasi bagian tubuhnya seperti sisi wajah, tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  4. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang agak tajam.
  5. Paruhnya yang berwarna merah muda berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  6. Ekornya yang berwarna hijau zaitun berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  7. Lalu kakinya yang berwarna merah muda berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, setelah membahas tentang karakter fisik burung Cinenen Pisang maka kita juga perlu mengenal terkait ciri suara kicauannya. Ya, suara burung Cinenen Pisang tergolong nyaring dan agak melengking di telinga. Volume kicauannya juga lumayan tinggi dengan tempo yang cukup rapat atau terdengar seperti suara crecetan. Nada kicauannya berupa “te...ciii..tee...ciii” “ciuu....ciiuuu...ciuu” dan “tekk....tekkk” yang dibunyikan secara berulang-ulang dengan durasi di atas satu menitan.

Okey, begitulah penjelasan tentang burung Cinenen Pisang yang habitatnya hanya terdapat di wilayah Pulau Jawa saja. Untuk itu, agar kelestariannya tidak tertanggu di alam liar maka ada baiknya kita memang tidak perlu memaksakan untuk memeliharanya dengan menangkap dari hutan. Dan bagi Anda yang tertarik dengan ciri kicaunnya maka dapat mengunduh audio suaranya yang ada di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2012/02/06/cinenen-pisang/
2. http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_cinenen_pisang.htm
3. https://www.hbw.com/species/common-tailorbird-orthotomus-sutorius

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Common_Tailorbird_(Orthotomus_sutorius)_in_Hyderabad,_AP_W_IMG_7561.jpg

Perenjak Rawa, Si Burung Ocehan Mungil yang Bersuara Merdu

Jenis burung Perenjak atau yang akrab dipanggil Ciblek tergolong bagian jenis burung ocehan yang sudah umum dikenal orang-orang. Hal ini dikarenakan suara kicauannya terdengar tak kalah merdu dan nyaring dibandingkan jenis burung ocehan yang biasanya dipelihara dan diikutkan dalam perlombaan. Selain itu, keberadaan jenis burung Perenjak yang ada di wilayah hutan Indonesia terdiri dari lima jenis dan hanya dua di antaranya yang lazim dikenal orang-orang seperti burung Perenjak Jawa dan Perenjak Gunung. Akan tetapi pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu jenis burung Perenjak yang tidak terlalu banyak dikenali. Dan nama burung tersebut adalah burung Perenjak Rawa.

Burung Perenjak Rawa merupakan salah jenis burung Perenjak yang berasal dari keluarga Sylviidae. Area persebarannya tidak hanya terdapat di wilayah hutan Indonesia tapi juga tersebar dibanyak negara Asia lainnya seperti Pakistan, India, Tiongkok, Myanmar, Vietnam Taiwan, Laos, Kamboja, dan Malaysia. Selain itu, daerah di Indonesia yang dihuni kawanan burung Perenjak Rawa tersebar di Sumatera, Pulau Nias, Jawa, dan Kalimantan. Luasnya area persebarannya juga terkait dengan banyaknya jumlah sub-spesies yang mencapai tujuh jenis dan terdiri dari sindiana, flaviventris, delacouri, sonitans, rafflesi, halistona, dan latrunculus.
Burung Perenjak Rawa
Sedangkan area alam liar yang biasanya ditempati burung Perenjak Rawa tersebar merata baik di dataran rendah hingga perbukitan dengan ketinggian mencapai 900 meter dpl. Kawasan alam bebas yang banyak terdapat populasi burung Perenjak Rawa biasanya di rawa gelagah, padang rumput tinggi, dan semak belukar yang tidak terlalu banyak pepohonannya. Selain itu, karakternya dikenal cukup pemalu dengan lebih sering mengeluarkan bunyi suara dibandingkan menampakkan dirinya. Begitu juga dengan waktu berkembangbiaknya yang berlangsung dibulan Maret, Mei, November, dan Desember dengan jumlah telur maksimal sebanyak empat butir.
Baca juga:
Adapun ciri fisik burung Prinia Flaviventris yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong lumayan kecil dengan panjang hanya sekitar 13 cm saja. Dan untuk ciri fisiknya lain bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna abu-abu kehitaman yang hanya tampak dibagian mahkota kepala dan belakang matanya.
  2. Berwarna kuning zaitun kehijauan yang terlihat dibagian tengkuk, punggung, sayap, pangkal ekor, perut, dan tunggirnya.
  3. Berwarna hitam zaitun tua yang yang hanya menutupi bagian ekornya saja.
  4. Berwarna abu-abu agak kusam dibagian tenggorokan, sisi wajah, dan pangkal dadanya saja.
  5. Paruhnya yang berwarna hitam pekat berukuran sedang yang terlihat agak tebal.
  6. Matanya yang memiliki iris dengan corak warna cokelat tua berukuran sedang yang sorot tatapannya cukup tajam.
  7. Ekornya yang berwarna hitam zaitun berukuran lumayan panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  8. Lalu kakinya yang berwarna kuning kecokelatan berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, setelah mengulik tentang karakter fisik burung Perenjak Rawa maka kita juga perlu mengetahui terkait ciri suara kicauannya. Ya, suara burung Perenjak Rawa lumayan nyaring dan terdengar agak melengking di telinga. Volume kicauannya juga tergolong sedang dengan tempo yang lumayan rapat dan cenderung agak tergesa-gesa. Nada kicauannya berupa: “scink...scinkk...scinkkk” yang dibunyikan dengan irama cukup teratur. Hanya saja, secara umum suara kicauannya tergolong monoton yang walaupun terdengar lumayan lantang dan tajam.

Yup, begitulah penjelasan seputar burung Perenjak Rawa yang kualitas suaranya tidak kalah nyaring dibanding burung Perenjak lainnya yang umum kita kenal. Untuk itu, bagi Anda yang tertarik dengan burung Perenjak Rawa maka tak ada salahnya mencarinya di pasar burung ocehan untuk dipelihara. Akan tetapi bila cukup sulit menemukannya di pasar burung maka bisa mengunduh audio suara yang banyak terdapat di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
1. http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_perenjak_rawa.htm
2. https://www.hbw.com/species/yellow-bellied-prinia-prinia-flaviventris
3. http://www.kutilang.or.id/2012/02/07/perenjak-rawa/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Yellow-bellied_Prinia_-_Taiwan_S4E9702_(17133168450).jpg

Monday, May 28, 2018

Mengenal Lebih Dekat Burung Tukik Tikus

Berbicara tentang jenis burung Pelatuk mungkin sebagian besar dari para pembaca sekalian sudah mengenal ataupun pernah melihatnya. Ya, jenis burung Pelatuk yang dikenal akrab dalam film kartun Woody Woodpecker diketahui memiliki jambul panjang berwarna merah dengan paruh panjang yang dipergunakan untuk mematuki batang pohon sebagai sarangnya. Selain itu, jenis burung Pelatuk yang terdapat di wilayah hutan Indonesia tergolong lumayan banyak dengan ukuran mulai kecil sampai besar. Hanya saja, pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu jenis burung Pelatuk yang ukuran tubuhnya sangat kecil. Dan nama burung tersebut adalah burung Tukik Tikus.

Burung Tukik Tikus merupakan salah satu jenis burung Pelatuk yang berasal dari keluarga Picidae. Area persebaran burung Tukik Tikus diketahui hanya terbatas di kawasan Asia Tenggara yang meliputi negara Myanmar, Thailand, dan Indonesia saja. Selain itu, daerah di Indonesia yang terdapat populasi burung pelatuk mungil ini tersebar di Sumatera, Belitung, Pulau Nias, Kalimantan, dan Jawa. Terbatasnya area persebaran burung Tukik Tikus mungkin dipengaruhi oleh jumlah sub-spesiesnya yang hanya sebanyak dua jenis yakni Abnormis dan Magnirostris.
Burung Tukik Tikus
Perlu diketahui bahwa di alam liar biasanya burung Tukik Tikus terdapat di dataran rendah hingga perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian mencapai 800 meter dpl. Area alam lias yang menjadi habitatnya berupa hutan primer, hutan sekunder, dan rumpun bambu yang letaknya cukup jauh dari pemukiman masyarakat. Kebiasaannya saat mencari makanan dilakukan dengan mematuki batang dan cabang pohon sambil mengeluarkan suara. Santapan makanan yang biasa dicarinya berupa tempayak, ulat, jangkrik, dan larva semut. Selain itu, saat memasuki masa berkembangbiak yang terjadi sekitar bulan Mei hingga Agustus biasanya sang indukan akan membangun sarang di batang pohon yang sudah mati dengan mematuki sehingga berbentuk lubang yang berukuran sedang.
Baca juga:
Seperti disinggung pada akhir paragraf pertama bahwa ukuran tubuh burung Sasia Abnormis yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong cukup kecil dengan panjang hanya sekitar 10 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna hijau tua zaitun yang tampak menutupi bagian atas tubuhnya seperti mahkota kepala, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Berwarna kuning tua kemerahan yang menutupi sebagian besar bagian tubuhnya mulai dari kening kepala, sisi wajah, tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  3. Paruhnya yang berukuran agak panjang tampak berwarna hitam dibagian atas dan hijau muda di area bawahnya yang terlihat cukup tebal.
  4. Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam
  5. Ekornya yang berwarna hijau terlihat berukuran sangat pendek dan seperti tidak memiliki ekor.
  6. Lalu kakinya berwarna kuning oranye yang berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, setelah membahas terkait ciri-ciri fisik burung Tukik Tikus maka kita pun juga perlu mengulik tentang karakter suara kicauannya. Ya, suara burung Tukik Tikus tergolong nyaring dan agak melengking di telinga. Volume kicauannya tidak terlalu tinggi dengan tempo yang cukup rapat. Nada kicauannya pun berupa: “tsitttt” dan “kihhh....kihhh....kihhh” yang berbunyi secara berulang-ulang dengan durasi hampir setengah menit.

Yup, begitulah kiranya penjelasan seputar burung Tukik Tikus yang satu-satunya jenis burung Pelatuk dengan ukuran tubuh paling mungil. Selain itu suara kicauannya pun terdengar lumayan merdu dan nyaring. Hanya saja, mengingat masih sangat jarangnya yang memelihara burung Tukik Tikus maka ada baiknya kita tidak perlu memaksakan untuk merawatnya karena bisa jadi berujung pada matinya burung pelatuk tersebut. Untuk itu, bagi Anda yang tertarik dengan suara kicauannya maka bisa mengunduhnya dari internet. Okey.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2013/04/05/tukik-tikus/
2. https://omkicau.com/2014/06/27/tukik-tikus-burung-pelatuk-terkecil-di-dunia-itu-ada-di-indonesia/
3. https://www.hbw.com/species/rufous-piculet-sasia-abnormis

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sasia_abnormis.jpg

Sunday, May 27, 2018

Kecici Belalang, Si Burung Ocehan Migrasi yang Bersuara Merdu

Berbicara tentang jenis burung ocehan yang suara kicauannya cukup merdu dan nyaring biasanya kita akan tertuju pada burung-burung yang berhabitat asli di Indonesia. Hal ini pun wajar sebab jenis burung ocehan yang banyak dipelihara dan sering diperlombakan memang rata berhabitat dan berkembangbiak di wilayah hutan kita. Walaupun demikian, ternyata ada juga jenis burung ocehan migrasi yang rutin mendatangi wilayah hutan kita setiap tahunnya yang memiliki suara kicauan lumayan merdu dan nyaring. Karenanya pada tulisan ini coba mengulik salah satu di antara agar kita dapat semakin mengenalnya. Dan nama burung ocehan migrasi tersebut adalah burung Kecici Belalang.

Burung Kecici Belalang merupakan salah satu jenis burung migrasi yang berasal dari keluarga Sylviidae. Area persebaran negara yang menjadi tujuannya bermigrasi tergolong lumayan luas yang meliputi bagian Asia Selatan, India, Asia Tenggara, dan termasuk juga ke Indonesia. Begitu juga area persebarannya di Indonesia diketahui terdapat di kawasan Sunda Besar dan Sulawesi. Selain itu, negara yang menjadi habitat aslinya untuk berkembangbiak berada di Siberia, Tiongkok, Mongolia, Transbaikalia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia. Walaupun area persebarannya lumayan luas tapi jumlah sub-spesiesnya tidak terlalu banyak hanya sekitar empat jenis yakni rubescens, sparsimstriata, certhiola, dan centralasiae.
Ilustrasi Burung Kecici Belalang
Sedangkan sewaktu berada di Indonesia biasanya burung Kecici Belalang berada di kawasan dataran rendah hingga dataran tinggi. Area alam bebas yang menjadi habitatnya berupa kawasan terbuka yang tidak terlalu jauh dari pemukiman masyarakat seperti hutan buluh, area persawahan, rawa-rawa, hutan dekat air payau, pinggiran hutan, dan semak belukar. Karakternya dikenal cukup pemalu dengan lebih suka bersembunyi dan bergerak mengendap-endap di antara rimbunnya pohon dan hutan. Santapan makanan yang rutin dicarinya setiap hari berupa serangga dan buah-buahan kecil. Hanya saja, mengingat habitat aslinya tidak berada di Indonesia maka sulit diketahui secara jelas terkait waktu berkembangbiak dan jumlah telur yang dierami indukannya.
Baca juga:
Adapun ukuran tubuh burung Locustella certhiola yang dipanggil dalam bahasa latin ini lumayan sedang dengan panjang sekitar 15 cm. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna cokelat tua yang terdapat dibagian mahkota kepala, tengkuk, punggung, sayap, sisi bawah sayap dekat, perut, dan ekornya.
  2. Berwarna hitam berupa garis-garis tebal yang tampak dibagian mahkota kepala, punggung, sayap, hingga ekornya.
  3. Berwarna abu-abu kecokelatan yang terlihat dibagian tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  4. Paruhnya berwarna hitam dibagian atas dan kuning dibagian bawah yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  5. Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam.
  6. Ekornya yang berwarna cokelat bercampur hitam berukuran sedang dengan bulu-bulu yang berukuran agak lebar.
  7. Lalu kakinya yang berwarna kuning kecokelatan berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, setelah mengulik tentang ciri-ciri fisik burung Kecici Belalang maka kita juga perlu membahas terkait dengan karakter suara kicauannya. Ya, suara burung Kecici Belalang lumayan nyaring dan tidak terlalu melengking di telinga. Volume kicauannya juga tergolong sedang dengan tempo yang cukup rapat sehingga terdengar seperti suara crecetan. Nada kicauannya berupa: “Cirrr...ciirrrr” dan “tikkk...tikkk...tikkk” yang dibunyikan secara berulang-ulang dengan durasi hingga satu menitan.

Yup, walaupun burung Kecici Belalang bukanlah burung penetap yang bersarang di Indonesia tapi sudah banyak juga di antara para penghobies yang telah mengenal ataupun sedang memeliharanya. Hal ini pun tentu terkait dengan suara kicauannya yang cukup aktif berbunyi dan sering dipergunakan untuk memaster ataupun memancing burung ocehan agar lebih rajin berkicau. Hanya saja, keberadaannya di pasar burung pun tergolong masih sangat jarang maka bagi Anda yang tertarik dengan burung Kecici Belalang dapat mengunduh audio suaranya yang ada di internet. Okey.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2012/03/29/kecici-belalang/
2. https://omkicau.com/2013/12/31/paduan-cerecetan-siulan-dan-tembakan-kecici-belalang/
3. https://www.hbw.com/species/pallass-grasshopper-warbler-locustella-certhiola

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Locustella_certhiola_1876.jpg

Mengenal Lebih Dekat Burung Anis Kuning

Berbicara tentang burung Anis Kuning mungkin sangat sedikit di antara kita yang pernah melihatnya secara langsung. Ya, hal ini pun wajar sebab burung Anis Kuning tergolong jenis burung migrasi yang hanya berada di wilayah hutan Indonesia saat waktu tertentu saja. Selain itu, ciri fisiknya pun berukuran tidak kalah jauh berbeda dari jenis burung Anis lainnya yang sudah umum kita kenal. Begitu juga dengan kualitas suaranya pun tergolong merdu dan nyaring yang bisa dimanfaatkan untuk memaster burung ocehan lainnya. Untuk itu, penulis pun tertarik mengulasnya lebih dekat lagi agar kita semakin mengenalnya.

Burung Anis Kuning merupakan salah satu jenis burung Anis yang berasal dari keluarga Turdidae. Area persebaran yang menjadi negara tujuan migrasinya terdapat di negara India, Taiwan, Filipina, dan Indonesia. Begitu juga dengan daerah di Indonesia yang menjadi rumahnya sementara tergolong merata yang tersebar di kawasan Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Flores. Terkait negara yang menjadi habitat aslinya berada di Siberia, Kamchatka, Mongolia, dan Amurland yang memiliki musim dingin. Hanya saja tidak diketahui secara jelas terkait jumlah sub-spesiesnya baik yang bermigrasi ke Indonesia ataupun dinegara lainnya.
Burung Anis Kuning
Sedangkan area alam liar yang biasanya ditempati kawanan burung Anis Kuning tersebar cukup merata baik dataran rendah hingga perbukitan dan pegunungan. Area hutan itu pun berupa hutan sekunder, hutan mangrove, hutan casuarina, hutan primer, hutan terbuka, hutan dekat pantai, dan vegetasi sekunder. Biasanya santapan yang rutin dicari burung Anis Kuning berupa hewan invetebrata seperti serangga dan siput. Selain itu, karakternya juga dikenal tidak terlalu takut saat didekati oleh manusia dan memiliki sifat yang ingin tahu dengan mendatangi objek yang membuatnya penasaran. Akan tetapi mengingat statusnya sebagai burung migrasi tentunya tidak diketahui pasti terkait waktu berkembangbiak dan jumlah telur yang dierami indukannya.
Baca juga:
Adapun ukuran fisik burung Turdus Obscurus yang dipanggil dalam bahasa latin ini tidak terlalu besar dengan panjang sekitar 23 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna cokelat zaitun tua yang tampak dibagian mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dada, dan ekornya.
  2. Berwarna hitam keabu-abuan yang hanya terlihat dibagian tengah punggung dan ujung sayapnya.
  3. Berwarna oranye tua yang terlihat dibagian tenggorokan, dada, dan sisi samping perutnya.
  4. Berwarna putih terang yang terdapat dibagian alis mata, perut, hingga tunggirnya.
  5. Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam
  6. Paruhnya berwarna hitam dibagian atas dan kuning tua area bawahnya yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  7. Ekornya yang berwarna kecokelatan berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar.
  8. Lalu kakinya yang berwarna kuning tua kehitaman berukuran agak panjang dengan cakar yang tajam.

Nah, setelah mengulik tentang ciri-ciri fisik burung Anis Kuning maka selanjutnya kita pun perlu juga membahas terkait kualitas suara kicauannya. Ya, suara burung Anis Kuning terdengar cukup nyaring dan merdu. Volume kicauannya lumayan sedang dengan tempo yang tidak terlalu rapat. Nada kicauannya berupa: “zip....zippp” yang dibunyikan dengan irama mengalun merdu.

Yup, sampai sini kiranya penjelasan seputar burung Anis Kuning yang tergolong burung migrasi dengan suara kicauan nyaring dan merdu. Mungkin setelah membaca artikel ini tidak hanya menambah wawasan kita seputar ragam jenis burung ocehan tapi juga membuat Anda tertarik dengan burung Anis Kuning. Hanya saja, mengingat burung Anis Kuning tidak setiap waktu berada di Indonesia tentu akan sulit menemukannya. Untuk itu ada baiknya bisa mencari rekaman audio suaranya yang ada di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2011/08/02/anis-kuning/
2. https://www.hbw.com/species/eyebrowed-thrush-turdus-obscurus

Rerefensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Eyebrowed_Thrush.jpg