Wednesday, May 16, 2018

Mengulik Lebih Dalam Tentang Burung Cucak Bersisik

Berbicara tentang jenis burung Cucak-cucakan yang berasal dari keluarga Pycnonotidae umumnya sudah banyak dikenal para penghobies. Sebab jenis burung Cucak-cucakan cukup banyak dipelihara orang-orang dan sering diikutkan keberbagai ajang perlombaan. Hal ini pun tak terlepas dari suara kicauan yang dimilikinya tergolong merdu dan bervariasi sehingga juga bisa dimanfaatkan untuk memaster jenis burung ocehan lainnya. Karenanya penulis pun tertarik untuk mengulas salah satu di antaranya agar kita semakin mengenal ragam jenis burung Cucak-cucakan. Dan nama burung tersebut adalah burung Cucak Bersisik.

Burung Cucak Bersisik tergolong salah satu dari puluhan jenis burung Cucak-cucakan yang berasal dari keluarga Pycnonotidae. Keberadaan burung Cucak Bersisik sangat terbtaas yang hanya terdapat di kawasan Asia Tenggara yang meliputi negara Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Begitu juga dengan area persebarannya di Indonesia diketahui banyak tersebar di wilayah Sunda Besar yang terdiri dari Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Terbatasnya area persebaran burung Cucak Bersisik tak bisa dilepaskan dari sedikitnya jumlah sub-spesiesnya yang hanya sekitar tiga jenis yakni Webberi, Squamatus, dan Borneensis.
Burung Cucak Bersisik
Sedangkan area alam liar yang menjadi habitat burung Cucak Bersisik banyak terdapat di kawasan dataran tinggi dengan rentang 400 sampai 700 meter dpl. Area hutan yang ditempatinya pun berupa semak belukar dan hutan perbukitan yang tidak terlalu lebat. Kebiasannya saat mencari makanannya seringnya bergerak secara sendirian dan terkadang bergabung bersama jenis burung lain. Biasanya jenis makanan yang dicarinya berupa buah-buahan yang berukuran kecil sampai sedang dan biji-bijian yang banyak terdapat di hutan. Hanya saja, tidak diketahui secara pasti terkait waktu perkembangbiakan dan jumlah telur yang dieraminya.
Baca juga:
Adapun ciri fisik burung Pycnonotus Squamatus yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong sedang dengan panjang hanya sekitar 15 sentimeter saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca uraiannya di bawah ini:

  1. Warna hitam hitam dan putih terlihat menutupi bagian dada, pangkal perut, dan sisi bawah sayapnya dengan pola mirip sisik yang agak tebal.
  2. Warna hitam pekat tampak dibagian atas mahkota kepala, tengkuk, dan ekornya.
  3. Warna putih tampak dibagian tenggorokannya yang memiliki bulu agak lebat dan dibagian perut hingga ke tunggirnya.
  4. Warna kuning tua keemasan hanya terdapat dibagian punggung dan sayapnya.
  5. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang sorot yang tidak terlalu tajam.
  6. Paruhnya yang berwarna hitam berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  7. Ekornya yang berwarna hitam terlihat berukuran sedang dengan bulu yang agak lebar.
  8. Lalu kakinya berwarna hitam pekat yang berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, telah disinggung pada paragraf awal bahwa jenis burung Cucak-cucakan memiliki suara merdu dan begitu juga dengan burung Cucak Bersisik yang kualitas suara kicauannya tergolong nyaring. Volume kicauannya tergolong sedang yang terdengar agak melengking di telinga. Tempo kicauannya lumayan rapat yang berupa suara crecetan yang agak bergetar di awal bunyi. Walaupun demikian, suara kicauan burung Cucak Bersisik lumayan lembut sehingga enak didengarkan.

Okey, begitulah kiranya penjelasan seputar burung Cucak Bersisik yang suara kicauannya tidak kalah merdu dibandingkan jenis burung Cucak-cucakan lainnya. Hanya saja, keberadaannya di alam liar perlu diwaspadi karena jumlah populasinya sedang Mendekati Terancam. Untuk itu ada baiknya agar kita tidak perlu memelihara burung Cucak Bersisik supaya kelestariannya di alam liar dapat kembali stabil.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2011/12/28/cucak-bersisik/
https://www.hbw.com/species/scaly-breasted-bulbul-pycnonotus-squamatus

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:SCALY-BREASTED_BULBUL.jpg

Tuesday, May 15, 2018

Cabai Kelabu, Si Burung Ocehan Endemik yang Berukuran Kecil

Jenis burung Cabai termasuk sebagai jenis burung ocehan yang bertubuh mungil dengan suara kicauan yang lumayan nyaring. Keberadaannya di Indonesia tergolong lumayan banyak hingga mencapai 21 jenis dengan ukuran yang tak kalah berbeda. Selain itu, beberapa di antaranya memiliki habitat yang hanya ditemukan di kawasan hutan Indonesia atau burung endemik. Untuk itu penulis pun coba mengulik salah satu di antaranya agar semakin banyak yang mengenalnya. Dan nama burung Cabai tersebut adalah burung Cabai Kelabu.

Burung Cabai Kelabu merupakan salah satu jenis burung Cabai dari keluarga Dicaeidae yang area persebarannya hanya terdapat di Indonesia. Area persebarannya di Indonesia pun cukup terbatas hanya di wilayah Maluku Selatan yang meliputi daerah Seram, Ambon, Saparua, Gorong, Laut Seram, dan Boano. Dengan terbatasnya area persebaran burung Cabai Kelabu tentunya turut membuat orang-orang banyak yang belum mengenal ataupun pernah melihatnya secara langsung. Selain itu juga, tidak diketahui secara pasti terkait jumlah sub-spesiesnya yang ada di Indonesia.
Burung Cabai Kelabu
Dicaeum Vulneratum yang menjadi nama latinnya diketahui menempati area hutan perbukitan dan pegunungan dengan rentang ketinggian berkisar 1000 sampai 2100 meter dpl. Area hutan yang ditinggalinya pun berada cukup jauh dari pemukiman masyarakat yakni berupa hutan primer, hutan sekunder, pinggir hutan dan hutan budidaya. Jenis makanan yang rutin disantapnya setiap hari berupa nektar bunga dan buah-buahan yang banyak terdapat di hutan belantara.
Baca juga:
Nah, telah disinggung pada paragraf awal bahwa semua jenis burung Cabai memiliki ukuran tubuh kecil dan sama halnya juga dengan burung Cabai Kelabu yang panjang tubuhnya hanya sekitar 8.5 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Warna abu-abu kehitaman terlihat menutupi bagian bawah anggota tubuhnya mulai dari tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  2. Warna hitam kusam tampak dibagian atas tubuhnya yang meliputi mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  3. Warna merah terdapat dibagian tengah dada dan belakang punggungnya.
  4. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam.
  5. Paruhnya yang berwarna hitam berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  6. Ekornya yang berwarna hitam berukuran cukup pendek yang hanya terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak lebar.
  7. Lalu kakinya yang berwarna hitam berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Adapun ciri kicauan burung Cabai Kelabu tergolong lumayan merdu dan nyaring yang terdengar agak melengking di telinga. Volume kicauannya tidak terlalu tinggi dengan tempo yang cukup lambat. Suara kicauan yang dibunyikannya cenderung agak mendayu yang berupa siulan tipis agak panjang yang diulangi secara terus-menerus. Walaupun demikian, suara kicauan burung Cabai Kelabu termasuk lumayan lantang atau tajam.

Yup, begitu lah kiranya penjelasan seputar burung Cabai Kelabu yang habitatnya hanya terdapat di wilayah Indonesia. Dan semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan kita seputar ragam jenis burung ocehan yang belum umum kita kenal. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/04/16/cabai-kelabu/
https://www.hbw.com/species/ashy-flowerpecker-dicaeum-vulneratum

Referensi Gambar:
http://orientalbirdimages.org/search.php?Bird_ID=2170

Mengenal Lebih Jauh Tentang Burung Cabai Benalu

Jenis burung Cabai tergolong sebagai jenis burung ocehan yang memiliki corak warna indah dan berpostur tubuh mungil. Keindahan corak warnanya tak kalah menarik dibandingkan dengan jenis burung Madu yang terlihat mengkilap. Selain itu, ciri kicauan yang dibunyikannya terdengar lumayan merdu dan nyaring dengan nada yang cukup tajam atau lantang. Hanya saja, kepopulerannya sangat kurang di mata para penghobies yang masih sangat jarang ada yang memelihara dan menjadikannya burung masteran. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu di antaranya agar kita dapat semakin mengetahuinya. Dan nama burung Cabai tersebut adalah burung Cabai Benalu.

Burung Cabai Benalu merupakan salah satu dari dua puluh satu jenis burung Cabai yang tersebar di Indonesia. Daerah di Indonesia yang terdapat populasi burung Cabai Benalu berada dibagian timur yang tersebar di Kepulauan Kai, Kepulauan Watubela, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Selain itu di Indonesia, populasinya juga terdapat di negara Australia. Terbatasnya area persebarannya yang banyak terdapat di kepulauan tentunya membuat banyak para penghobies tidak terlalu mengenalnya. Dan juga, jumlah sub-spesiesnya pun hanya terdiri dari empat jenis yang meliputi hirundinaceum, keiense, ignicolle, dan fulgidum.
Burung Cabai Benalu
Sedangkan keberadaannya di alam bebas paling banyak terdapat di kawasan hutan dtaran rendah hingga perbukitan yang ketinggian maksimal hanya sekitar 250 meter dpl. Area hutan yang terdapat populasi burung Cabai Benalu berupa hutan mangrove, hutan sekunder, dan hutan yang terletak dekat pedesaan. Makanan yang biasa dicari burung Cabai Benalu cukup bervariasi seperti serangga yang berukuran kecil dan buah-buahan. Waktu berkembangbiak yang dijalaninya secara umum berlangsung sekitar bulan Agustus hingga April tapi tidak diketahui secara pasti terkait jumlah telur yang dieraminya.
Baca juga:
Sebagaimana telah dituliskan sekilas terkait ukuran tubuhnya yang tergolong kecil dengan panjang hanya sekitar 9 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna hitam pekat yang menutupi bagian mahkota kepala waah, tengkuk, punggung, sayap, ekor, garis panjang di tengah dada sampai perut, dan bercak disekitaran sisi perut.
  2. Berwarna merah tua yang tampak dibagian tenggorokan, dada, dan tunggirnya.
  3. Warna putuh hanya terlihat menutupi bagian keseluruhan perutnya.
  4. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang.
  5. Paruhnya juga berwarna hitam yang berukuran sedang dan terlihat lumayan tebal.
  6. Ekornya yang berwarna hitam juga berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar.
  7. Lalu kakinya yang berwarna hitam juga berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, suara kicauan burung Dicaeum hirundinaceum yang dipanggil dalam bahasa latin ini terdengar lumayan nyaring dan tidak terlalu melengking. Volume kicauannya tergolong agak tinggi dengan tempo yang lumayan rapat. Hanya saja, corak kicauannya berupa cicitan yang iramanya tidak beraturan dilakukan secara terus-menerus dengan durasi cukup lama hingga sekitar satu menitan.

Begitulah ulasan seputar burung Cabai Benalu yang corak warnanya cukup mencolok dengan suara kicauan yang lumayan nyaring. Akan tetapi, dengan mengetahui bahwa area persebarannya yang hanya tersebar dibagian kepuluan timur Indonesia tentunya akan sulit bagi kita untuk memeliharanya. Maka jika tertarik dengan suara kicauan maka dapat mencarinya di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/04/19/cabai-benalu/
https://www.hbw.com/species/mistletoebird-dicaeum-hirundinaceum

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Dicaeum_hirundinaceum_-near_Lake_Ginninderra,_Canberra,_Australia_-male-8_(1).jpg

Monday, May 14, 2018

Lebih Dekat Mengenal Keindahan Burung Munguk Loreng

Berbicara tentang jenis burung ocehan umumnya mengupas tentang keindahan kualitas suara kicauannya saja. Hal ini dirasa wajar sebab tanpa memiliki suara kicauan yang merdu dan nyaring tentunya tidak akan dilirik oleh para penghobies untuk dipelihara maupun diikutkan dalam perlombaan. Tapi kita juga perlu mengulik terkait keindahan corak dan warna bulu-bulunya. Sebab banyak juga di antara jenis burung ocehan yang memiliki keindahan corak warna yang masih belum terlalu dikenal para penghobies. Untuk itu penulis pun coba mengenalkan salah satunya agar kita semuanya dapat semakin mengetahuinya. Dan nama burung ocehan tersebut adalah burung Munguk Loreng.

Burung Munguk Loreng tergolong salah satu dari empat jenis burung ocehan yang berasal dari keluarga Sittidae. Area persebarannya diketahui hanya terbatas di kawasan Asia Tenggara yang meliputi negara Thailand, Malyasia, dan Indonesia saja. Daerah di Indonesia yang ditinggalinya pun hanya terfokus di wilayah Pulau Sumatera dan Jawa (mulai barat sampai timur). Mungkin terbatasnya area persebaran burung Munguk Loreng turut membuatnya tidak terlalu dikenal luas para penghobies.
Burung Munguk Loreng
Nah, area alam liar yang dijadikannya tempat tinggalnya umumnya terdapat di kawasan dataran tinggi dengan rentang ketinggian berkisar 900 sampai 2400 meter dpl. Begitu juga dengan area hutan yang menjadi habitatnya berada cukup jauh dari pemukiman masyarakat berupa hutan primer, hutan sekunder, dan hutan pegunungan. Kebiasaannya saat mencari makanan seringnya bergerak secara berkelompok dan terkadang bergabung bersama jenis burung ocehan lainnya yang terdapat dibagian hutan sub pegunungan. Santapan rutin yang dimakannya biasanya berupa serangga yang berukuran kecil seperti jangkrik maupun larva serangga.
Baca juga:
Sedangkan ukuran tubuh burung Sitta Azurea ini lumayan kecil mirip ukuran fisik burung Kacamata dan Sikatan yang panjangnya hanya sekitar 13 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca uraiannya di bawah ini:
  1. Berwarna hitam pekat yang tampak dibagian mahkota kepala, sisi pangkal wajah, garis-garis terluar dibagian sayap, dan tunggirnya.
  2. Berwarna biru tua kehitaman terlihat dibagian tengkuk, punggung, dan sisi perut dekat bawah sayapnya.
  3. Berwarna biru muda yang menutupi keseluruhan bagian sayap dan ekornya.
  4. Warna putih tampak jelas dibagian lingkaran matanya, tenggorokan, dada, dan perutnya.
  5. Matanya yang berwarna hitam dengan corak putih dibagian irisnya terlihat berukuran sedang.
  6. Paruhnya berwarna putih kehitaman berukuran agak panjang dan terlihat agak tebal.
  7. Lalu kakinya yang berwarna kehitaman berukuran sedang dengan cakar yang tajam.
Ciri kicauan burung Munguk Loreng terdengar tak kalah merdu dan nyaring dibandingkan jenis burung ocehan lainnya. Bunyi kicauannya tergolong cukup tinggi dengan tempo yang lumayan rapat. Suara kicauannya terdengar seperti suara tembakan yang beruntut dan padat dan diulangi secara terus-menerus. Walaupun tempo cukup rapat tapi irama kicauanya lumayan stabil dengan nada naik-turun yang dibunyikan secara beraturan.

Begitulah kiranya penjelasan seputar burung Munguk Loreng yang tidak hanya pandai berkicau tapi juga memiliki corak warna bulu yang indah. Tentunya keindahan corak warna burung Munguk Loreng tidak banyak dimiliki jenis burung ocehan lainnya. Untuk itu ada baiknya memang kita tidak perlu menangkapnya di alam liar agar kelestariannya tetap terjaga. Dan bila tertarik dengan suara kicauannya maka bisa mencarinya di internet yang nantinya bisa dipergunakan untuk melatih burung lain agar suara kicauannya lebih bervariasi terdengar lantang.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/05/07/munguk-loreng/
https://www.hbw.com/species/blue-nuthatch-sitta-azurea
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_munguk_loreng.htm

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Blue_Nuthatch_-_Cibodas_Botanical_Garden,_Java,_Indonesia.jpg

Pelanduk Dada-putih, Si Burung Ocehan yang Mulai Terancam

Berbicara tentang jenis burung ocehan yang tersebar di wilayah Indonesia umumnya ada di antaranya yang populasinya sedang terancam di alam liar. Terancamnya populasi jenis burung ocehan tersebut tak bisa dilepaskan dari menipisnya hutan yang menjadi habitatnya. Selain itu, maraknya perburuan liar yang tak diimbangi dengan penangkaran tentunya turut membuat populasinya pun kian terancam. Untuk itu pada tulisan ini coba mengulik salah satu di antaranya agar kita agar semakin mengenalnya. Dan nama burung ocehan tersebut adalah burung Pelanduk Dada-putih.

Burung Pelanduk Dada-putih merupakan salah satu burung yang berasal dari keluarga Timaliidae yang dikenal memiliki suara kicauan yang merdu. Penyebarannya di Indonesia diketahui hanya terdapat di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Lingga, Belitung, Kalimantan, dan Pulau Banggi. Akan tetapi keberadaannya pun juga ditemukan dibeberapa negara tetangga kita seperti Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Walaupun area persebarannya berada di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara tapi jumlah sub-spesiesnya hanya terdiri dari dua jenis saja yakni Rostratum dan Macropterum.
Burung Pelanduk Dada-putih
Di alam liar, burung Pelanduk Dada-putih banyak terdapat di kawasan dataran rendah hingga perbukitan dengan ketinggian maksimal sekitar 500 meter dpl. Area hutan yang menjadi tempat tinggalnya cukup bervariasi seperti hutan rawa-rawa, hutan dekat tepian sungai, dan hutan mengrove. Kebiasannya saat mencari makanan bergerak secara berpasangan dan terkadang juga bergabung bersama jenis burung lainnya. Begitu juga dengan jenis makanan yang rutin disantapnya umumnya berupra serangga yang berukuran kecil dan larva serangga. Secara umum waktu berkembangbiak yang dijalaninya berlangsung sekitar bulan Maret sampai Juni dengan sarang yang berbentuk mirip mangkuk dan mampu mengerami telur sebanyak dua butir.
Baca juga:
Sedangkan ukuran fisik burung Trichastoma rostratum tergolong kecil dengan panjang sekitar 15 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna cokelat berangan yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Warna putih kusam terlihat dibagian bawah anggota tubuhnya yang meliputi tenggorokan, dada, perut, hingga area tunggirnya.
  3. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan terlihat berukuran sedang dengan sorot yang agak tajam.
  4. Paruhnya berwarna hitam pekat yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  5. Ekornya yang berwarna cokelat tersebut berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  6. Lalu kakinya berwarna hitam kecokelatan yang berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Disamping itu, ciri kicauan burung Pelanduk Dada-putih tidak kalah merdu dari saudara dekatnya yakni burung Pelanduk Semak. Suara kicauan yang dibunyikannya terdengar nyaring dan melengking di telinga. Begitu juga dengan volume kicauannya pun cukup tinggi dan lantang atau tajam. Nada kicauannya cukup bervariasi yang terdiri dari 3 sampai 6 nada yang dimulai dengan nada agak tinggi lalu terus menanjak tinggi hingga turun kembali dengan tempo yang cukup rapat. Selain itu, bila didengarkan dengan seksama suara kicauan burung Pelanduk Dada-putih terdengar seperti suara yang sedang berkata “minta duit”.

Nah, sampai sinilah penjelasan seputar burung Pelanduk Dada-putih yang suara kicauannya tidak kalah merdu dan nyaring dibandingkan jenis burung ocehan lainnya yang sudah umum kita kenal. Hanya saja, mengingat populasinya yang Hampir Terancam maka ada baiknya bagi kita yang tertarik memeliharanya dapat membelinya dari hasil budidaya atau penangkaran. Selain itu, bila dilatih dengan baik maka burung Pelanduk Dada-putih pastinya sangat berguna untuk dijadikan burung masteran bagi burung ocehan yang nantinya akan diikutkan dalam perlombaan.

Referensi Tulisan:
https://www.hbw.com/species/white-chested-babbler-trichastoma-rostratum
http://www.kutilang.or.id/2014/04/30/pelanduk-dada-putih/
https://omkicau.com/2016/09/21/pelanduk-dada-putih-suaranya-unik-berjuluk-burung-minta-duit/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Trichastoma_rostratum.jpg

Sunday, May 13, 2018

Jalak Alis-api, Si Burung Ocehan Endemik dari Sulawesi

Jenis burung jalak-jalakan termasuk bagian jenis burung ocehan yang sudah jamak dikenal orang-orang tidak hanya di Indonesia tapi juga beberapa negara lainnya. Hal ini tak terlepas dari kemampuan daya ingatnya yang mampu menirukan berbagai macam suara. Selain itu karakternya pun dikenal cukup aktif bergerak dan tidak mudah takut saat berhadapan dengan jenis burung ocehan lainnya. Keberadaan jenis burung jalak-jalakan di wilayah hutan kita pun sangatlah banyak dan salah satu di antaranya termasuk burung endemik di daerah Sulwesi. Dan nama burung jalak tersebut adalah burung Jalak Alis-api.

Burung Jalak Alis-api merupakan salah satu jenis burung jalak yang populasinya diketahui hanya terdapat di wilayah Sulawesi. Daerah di Sulawesi yang menjadi habitatnya tersebar dibagian semenanjung utara, area tengah, utara, dan selatan. Selain itu, jumlah sub-spesiesnya tidak terlalu banyak hanya sekitar tiga jenis yang terdiri dari rythrophris, centralis, dan leptorhynchus. Mengingat terbatasnya area persebaran burung Jalak Alis-api membuatnya pun tidak terlalu dikenal luas masyarakat yang berada diluar Sulawesi.
Ilustrasi Burung Jalak Alis-api
Di alam liar biasanya burung Jalak Alis-api mendiami bagian hutan perbukitan dan pegunungan dengan rentang ketinggian berkisar 500 sampai 2300 meter dpl. Area hutan yang menjadi habitatnya pun cukup beragam mulai dari hutan sekunder, hutan terbuka, dan pinggiran hutan yang tidak terlalu banyak pepohonannya. Keunikannya saat mencari makanan seringnya bergabung bersama jenis burung jalak lainnya seperti burung Raja-perling Sulawesi dan Jalak Tunggir-merah yang bertengger di atas ranting pohon. Jenis makanan yang disantapnya cukup bervariasi baik itu hewan inverteberata dan buah-buahan yang berukuran kecil. Hanya saja, terkait masa perkembangbiakannya tidak diketahui secara pasti baik terkait waktu dan jumlah telur yang dieraminya.
Baca juga:
Ukuran fisik burung Enodes erythrophris lumayan agak besar dengan panjang mencapai 28 sentimeter. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:
  1. Tampak berwarna oranye kemerahan yang terdapat dibagian atas mata berupa alis tebal yang cukup panjang.
  2. Berwarna abu-abu kehitaman pekat yang menutupi sebagian besar anggota tubuhnya mulai dari mahkota kepala, wajah, tenggorokan, punggung, dada, perut, dan tunggirnya.
  3. Berwarna kuning keemasan yang terlihat dibagian keseluruhan sayap, punggung belakang, dan seluruh ekornya.
  4. Paruhnya berwarna hitam pekat yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  5. Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berukuran sedang dengan sorot yang cukup tajam. 
  6. Ekornya terlihat berukuran lumayan panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang cukup lebar.
  7. Kakinya yang berwarna kuning krim berukuran sedang dengan cakar yang tajam.
Adapun corak warna suara kicauan burung Jalak Alis-api tergolong lumayan nyaring dan agak melengking di telinga. Bunyi kicauannya bervolume agak tinggi dengan adanya getaran dibagian tengah hingga akhir. Tempo suaranya tidak terlalu rapat dengan irama yang teratur baik saat menaikkan dan menurunkan nadanya. Suara kicaua yang dibunyikannya terdengar lumayan lantang dan tajam.

Yup, tidak banyak lagi yang bisa dituliskan terkait dengan burung Jalak Alis-api yang berhabitat di Sulawesi dan memiliki suara kicauan merdu dan nyaring. Hanya saja, mengingat keberadaannya terfokus di satu pulau Sulawesi saja maka ada baiknya kita tidak perlu memelihara agar kelestariannya di alam liar tetap terjaga. Selain itu, bagi Anda yang tertarik dengan suara kicauan burung Jalak Alis-api maka bisa menyimpan audio suaranya yang ada di internet dan nantinya dapat dipergunakan untuk melatih burung ocehan di rumah agar suara kicauannya terdengar semakin merdu dan lantang. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/04/24/jalak-alis-api/
https://www.hbw.com/species/fiery-browed-starling-enodes-erythrophris

Referensi Gambar:
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Enodes_erythrophris_1838.jpg

Sikatan Ninon, Si Burung Ocehan Endemik yang Bersuara Merdu

Berbicara tentang jenis burung Sikatan mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal ataupun sedang memelihara salah satu jenisnya. Ya, banyaknya yang menggemari burung Sikatan sebenarnya tak bisa dilepaskan dari kualitas suaranya yang terdengar nyaring dan merdu. Karenanya beberapa jenis burung Sikatan tidak hanya sekedar dijadikan burung peliharaan tapi cukup sering diikutkan dalam ajang perlombaan. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu di antaranya yang keberadaannya hanya terdapat di wilayah hutan kita. Dan nama burung Sikatan tersebut adalah burung Sikatan Ninon.

Burung Sikatan Ninon merupakan salah satu jenis burung Sikatan yang berasal dari keluarga Muscicapidae. Dikatakan bahwa burung Sikatan Ninon tergolong burung endemik yang area persebarannya di kawasan Sunda Besar yang meliputi Pulau Sumatara, Jawa, dan Kalimantan. Jumlah sub-spesiesnya pun tidak terlalu banyak hanya sekitar tiga jenis saja seperti ruficrissa, indigo, dan cerviniventris. Walaupun penyebarannya tidak terlalu luas tapi penyebutannya di antara para penghobies cukup bervariasi seperti burung Selendang Biru dan burung Tledekan Biru.
Burung Sikatan Ninon
Di alam liar biasanya burung Sikatan Ninon mendiami area hutan perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian sekitar 900 sampai 3000 meter dpl. Area hutan yang ditinggalinya pun berada cukup jauh dari pemukiman masyarakat berupa hutan primer dan sekunder. Karakternya dikenal cukup aktif bergerak dan berkicau tapi lumayan jinak atau tidak terbang saat didekati oleh manusia. Sewaktu mencari makanan biasanya dilakukan secara berkelompok ataupun bergabung bersama jenis burung lainnya. Begitu juga dengan jenis makanannya tergolong cukup bervariasi seperti kumbang kecil, jangkrik, buah-buahan kecil, dan larva serangga. Masa berkembangbiak yang dijalaninya berlangsung sekitar bulan Februari sampai Agustus dan Desember dengan jumlah telur sekitar dua butir.
Baca juga:
Adapun ukuran fisik burung Eumyias Indigo yang dipanggil dalam bahasa latin ini tidak terlalu besar dengan panjang hanya sekitar 14 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:
  1. Berwarna biru tua kehitaman yang menutupi bagian mahkota kepala, punggung, pangkal sayap, dada, pangkal perut, dan ekornya.
  2. Warna hitam terlihat dibagian area mata dan wajah, tengah mahkota, sayap, dan ekornya.
  3. Warna putih kusam tampak jelas dbagian perut hingga ke tunggirnya.
  4. Ekornya yang berwarna biru tua kehitaman berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  5. Paruhnya yang berwarna hitam berukuran kecil dan terlihat agak tebal.
  6. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang.
  7. Dan kakinya yang berwarna hitam pekat berukuran sedang dengan cakar yang tajam.
Sedangkan ciri suara kicauan yang dibunyikan burung Sikatan Ninon terdengar tidak kalah merdu dan nyaring dibandingkan jenis burung Sikatan lainnya. Bunyi kicauannya lumayan nyaring dengan volume tinggi dan terdengar melengking. Tempo kicauannya juga lumayan rapat yang mirip suara crecetan berdurasi cukup lama hingga hampir lima puluh detik. Nada kicauannya pun cukup bervariasi yang terdiri dari suara: “fii....fuu...fiiuu...fiiii” dan “trrrr....trrr”.

Begitulah penjelasan seputar burung Sikatan Ninon yang habitatnya hanya terdapat di Indonesia dan memiliki suara nyaring. Untuk itu bagi para pembaca yang kiranya tertarik dengan burung Sikatan Ninon mungkin bisa mencarinya di pasar burung ocehan. Ataupun bisa menyimpan audio suaranya yang ada di internet. Sehingga nantinya bisa dipergunakan untuk memaster burung ocehan kesayangan Anda di rumah agar suara kicauannya semakin bervariasi dan gacor. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2013/03/11/sikatan-ninon/
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_sikatan_ninon.htm
https://omkicau.com/2014/06/30/perawatan-burung-sikatan-ninon-dan-download-kicauannya/

Referensi Tulisan:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Indigo_Flycatcher_(Eumyias_indigo)_-_Flickr_-_Lip_Kee.jpg