Wednesday, November 1, 2017

Kumpulan Puisi XIII

Hujan Yang Merindu
Jatuh air-air suci dari langit memijak bumi
Penanda kerinduan yang dalam pada yang dicintai
Menebar senyum pada yang ditinggal dalam kekeringan
Berharap menjadi perjumpaan yang mengharukan
Antara langit yang tidak melupakan bumi yang kering.

Beranda Sanggar Pelangi, 2014.  


Detak Kata
Kata bisa berdetak pada mulut yang mau mengejanya
Merasuki tenggorokan dan tersimpan di hati
Hati yang mengerti mengeja pula kata-kata itu.
Terharu, senang, dan sedih adalah buah kata yang menyentuh hati
Hingga mata tiada lagi bisa berkedip lama.

Beranda Sanggar Pelangi, 2014. 


Kota Polusi
Kota polusi adalah lambang kota yang maju
Berisikan debu-debu dari kendaraan dan pabrik-pabrik
Merasuki paru-paru insan yang berkeliar di dalamnya
Apalah daya berkata, polusi itu ibarat santapan saat pagi berpijar.

Beranda Sanggar Pelangi, 2014. 


Lampu Mati
Konon saat jaman batu berbicara
Malam itu gelap dan siang itu terang
Orang-orang sibuk menapak jejak hanya pada siang dan malam melelapkan raga.
Tiada lagi itu dijumpai ketika manusia mengeri malam bisa menjadi siang
Penuh cahaya membantu manusia berkarya pada malam tiba
Tapi itu hanya cerita lama
Saat ini, siang adalah terang dan malam menjadi gelap
Tanpa lampu yang meneranginya.

Beranda Sanggar Pelangi 2014.



Hujan
Melihat langit yang tidak lagi biru dibumbung awan yang hitam
Menjadikan panas pun ikut mengatup dalam selimut
Angin yang berhembus bersama dengan gemuruh yang bersahutan
Menandakan sebentar lagi butir-butir air yang terjun ke bumi
Kala awan yang sudah tidak sanggup menghitam lagi
Akhirnya menurunkan ribuan tetes mengempas tanah yang bisu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Banjir
Hujan yang tidak lagi turun sebentar ini
Mengalir tanpa henti memenuhi setiap ruang yang senggang akan udara
Ketika ruang-ruang itu penuh oleh air yang dihembuskan langit
Mengisyaratkan agar mencarikan ruang lagi pada hujan yang terus menetes
Tapi ruang-ruang banyak yang enggan berbagai dengan hujan itu
Karena ditimpa oleh sampah yang tak terhingga macamnya
Hingga membuat air itu menjadi meluap yang menenggelamkan mata kaki ini.

Berada Sanggar Pelangi, 2016.

Akhir Februari
Februari bulan yang penuh dengan kasih
Menebar rindu kepada siapa saja yang menyadarinya
Rindu-rindu yang disematkan pada hujan yang turut hadir di bulan ini
Ikut membuat hanyut hati pada lamunan yang ingin segera bertemu
Dalam waktu yang teramat panjang hingga februari menutup harinya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Goresan Pena
Pena yang diam tidak pula memberikan maksudnya
Walaupun ia disandingkan dengan kertas yang berwarna merah jambu
Tinta pada pena yang diam itu agar dapat memberikan makna
Mesti diayunkan dengan rasa lembut di secarik kertas putih polos
Menggoreskan ujung pena pada secarik kertas putih polos
Goresan itu berasal dari hati yang telah lama ingin mencurahkan semuanya
Mencurahkan dengan makna yang dapat dibaca terang-benderang.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

0 komentar:

Post a Comment