Thursday, May 24, 2018

Sikatan Sunda, Si Burung Ocehan Endemik yang Mulai Langka

Berbicara tentang burung Sikatan Sunda mungkin akan terdengar sedikit asing di telinga para pembaca sekalian. Ya, hal ini pun wajar sebab biasanya orang-orang lebih mengenal jenis burung Sikatan Bakau dan Cacing yang banyak terdapat di pasar burung dan cukup sering diikutkan dalam perlombaan. Walaupun demikian kita tetap perlu juga mengenal lebih dalam lagi tentang burung Sikatan Sunda yang area persebarannya hanya terdapat di Indonesia. Selain itu, keberadaan populasinya di alam liar pun kian waktu terus menyusut yang membuat statusnya menjadi rentan. Untuk itu, pada tulisan ini coba menguliknya lebih jauh lagi supaya kita semakin mengenal burung Sikatan Sunda.

Burung Sikatan Sunda merupakan salah satu dari jenis burung Sikatan yang berasal dari keluarga Muscicapidae. Hanya mengingat dibelakang namanya terdapat nama Sunda tapi area persebarannya tidak terdapat di Pulau Jawa melainkan tersebar di wilayah Sumatera dan Kalimantan saja. Selain itu juga, jumlah sub-spesiesnya pun tidak terlalu banyak yang hanya terdiri dari tiga jenis yang meliputi: Albiventer, Rufifrons, dan Caerulatus. Tentunya mengingat terbatas area persebarannya membuat banyak orang pun tidak terlalu mengenal burung Sikatan Sunda.
Burung Sikatan Sunda Jantan
From: @Michelle and Peter Wong
Sedangkan habitat burung Sikatan Sunda di alam liar diketahui banyak di area dataran rendah dan mengengah. Area dataran rendah yang di tempatinya pun biasanya berupa pesisir pantai, pinggiran sungai, dan hutan bakau. Sewaktu mencari makanan kadang terlihat tidak jauh dari tenggeran ranting pohon rendah yang bekas hutan tebangan. Jenis makanannya berupa hewan invertebrata yang termasuk di dalamnya adalah serangga yang berukuran kecil. Untuk terkait waktu berkembangbiaknya biasanya terjadi antara bulan Februari hingga Juli tapi tidak diketahui secara jelas terkait bentuk sarang dan jumlah telurnya.
Baca juga:
Nah, ciri-ciri fisik burung Cyornis Caerulatus yang dipanggil dalam bahasa latin ini memiliki ukuran yang tidak kalah jauh berbeda dari jenis Sikatan lainnya dengan panjang tubuh sekitar 14 cm saja. Dan untuk corak warnanya terdapat perbedaan yang lumayan mencolok antara jantang dan betinanya.
1. Burung Sikatan Sunda jantan:
  • Berwarna biru muda yang agak gelap tampak dibagian depan mahkota kepala, sisi pangkal sayap, dan belakang punggungnya.
  • Berwarna biru tua gelap menutupi bagian belakang mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung depan, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna oranye yang terlihat dibagian tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  • Paruhnya berwarna hitam berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  • Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang cukup tajam.
  • Lalu ekornya juga berukuran yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
2. Burung Sikatan Sunda betina:
  • Berwarna cokelat tua yang menutupi bagian mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, dan sayapnya.
  • Berwarna biru tua agak gelap yang terlihat dibagan punggung dan ekornya.
  • Berwarna oranye yang tampak dibagian tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  • Bagian lingkaran matanya terdapat warna putih keabu-abuan yang cukup mencolok.
Yup, setelah membicarakan ciri fisik burung Sikatan Sunda maka kita juga perlu mengetahui terkait karakter suara kicauannya. Ya, suara burung Sikatan Sunda tergolong nyaring dan agak melengking di telinga. Volume kicauannya juga lumayan tinggi yang temponya tidak terlalu rapat dan terdengar seperti suara seruling atau siulan. Nada kicauannya yang berupa: “siii...siii. tiiuwww” berirama cukup rapi tapi terkesan agak monoton yang lebih sering melakukan pengulangan suara kicauan. Walaupun demikian, suara kicauan yang dibunyikannya tidak hanya nyaring tapi juga lumayan lantang dan tajam.

Tidak banyak lagi yang bisa dituliskan seputar burung Sikatan Sunda yang tergolong burung endemik dengan suara kicauan yang nyaring. Hanya saja, mengingat populasinya di alam liar yang terus menyusut maka ada baiknya memang kita tidak perlu menangkap maupun memeliharanya. Hal ini tentu dimaksudkan agar kelestariannya di alam liar dapat kembali stabil yang membuatnya terhindar dari potensi kepunahan.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2013/03/07/sikatan-sunda-sikatan-biru-langit/
2. https://omkicau.com/2013/11/28/sikatan-sunda-kerabat-tledekan-yang-makin-langka/
3. https://www.hbw.com/species/large-billed-blue-flycatcher-cyornis-caerulatus

Referensi Gambar:
http://orientalbirdimages.org/search.php?Bird_ID=2638&Bird_Image_ID=121684

Wednesday, May 23, 2018

Lebih Dekat Mengenal Burung Perling Kumbang

Berbicara tentang jenis burung Perling mungkin belum banyak di antara kita yang mengenal ataupun pernah melihatnya. Ya, jenis burung Perling masih tergolong ke dalam jenis burung jalak-jalakan yang berasal dari keluarga Sturnidae. Selain itu, jenisnya pun lumayan banyak yang mencapai 12 jenis yang tersebar merata diberbagai daerah. Hanya saja, orang-orang yang menggemarinya masih sangat sedikit dikarenakan memang belum umum menjadi burung ocehan peliharaan. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu jenis burung Perling agar semakin banyak yang mengetahuinya. Dan nama burung tersebut adalah burung Perling Kumbang.

Burung Perling Kumbang merupakan salah satu jenis burung ocehan yang area perseberannya tersebar merata tidak hanya di Indonesa tapi juga terdapat dibanyak negara kawasan Asia. Negara-negara yang menjadi habitatnya terdapat di negara Bangladesh, India, Myanmar Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Selain itu, daerah di Indonesia yang terdapat populasi burung Perling Kumbang tersebar di Pulau Sumatera, Kepulauan Banyak, Pulau Nias, Pulau Pini, Kepulauan Batu, Mentawai, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Luasnya area persebarannya sebenarnya tak bisa dilepaskan dari jumlah sub-spesiesnya yang mencapai 14 jenis yang 11 diantaranya terdapat di Indonesia. Dan juga penyebutan nama burung Perling Kumbang cukup bervariasi yang berbeda-beda dibeberapa daerah seperti: Camperling, Keling, Brling, Kembang, Geuri, Kalolojang, Lilin, dan Perling.
Burung Perling Kumbang
Begitu juga dengan habitatnya di alam liar biasanya tersebar merata mulai dari dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian 1200 meter dpl. Area alam liar yang ditinggalinya berupa kawasan terbuka yang tidak hanya hutan sekunder tapi juga lahan budidaya, perkebunan, dan taman di perkotaan. Kebiasaannya saat beraktivitas untuk mencari makanan seringnya bergerak secara berkelompok sambil mengeluarkan suara yang riuh atau ribut. Santapan makanan yang rutin dicarinya cukup bervariasi seperti buah-buahan, nektar, laba-laba, jangkrik, dan siput. Selain itu, saat memasuki masa berkembangbiak yang terjadi sekitar bulan Maret hingga Juni biasanya sang indukan akan mengerami telurnya sebanyak tiga butir.
Baca juga:
Adapun ukuran fisik burung Aplonis Panayensis tidak terlalu besar dengan panjang hanya sekitar 20 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya dibawah ini:

  1. Berwarna hitam pekat yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Berwarna hijau tua bergaris hitam yang tampak dibagian bawah tubuhnya seperti tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  3. Matanya yang berukuran agak besar berwarna merah saga yang cukup mencolok yang terlihat agak menyeramkan.
  4. Paruhnya berwarna hitam yang beerukuran sedang dan terliat agak tebal.
  5. Ekornya yang berwarna kehitaman juga berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar.
  6. Lalu kakinya berwarna hitam pekat yang berukuran tidak terlalu panjang dengan cakar yang tajam.

Nah, setelah membicarakan ciri fisiknya yang didominasi dengan warna hitam maka kita juga perlu mengulas ciri suara kicauannya. Ya, suara burung Perling Kumbang tergolong cukup nyaring dan terdengar lumayan melengking di telinga. Volume kicauannya juga lumayan tinggi atau kencang yang akan terus semakin meninggi saat menutup kicauannya. Tempo kicauannya tidak terlalu rapat dengan suara yang cukup lantang. Dan nada kicauannya tidak terlalu bervariasi dengan bunyi: “ciuwwww.... ciuuuwww” dan “tcirrr.... tcirrr”.

Okey, begitulah kiranya penjelasan seputar burung Perling Kumbang yang keberadaannya ternyata berada di sekitar kita. Tentunya dengan mengenali ciri fisik dan kehidupannya di alam liar dapat menambah wawasan kita tentang ragam jenis burung ocehan yang masih belum kita ketahui. Selamat membaca.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2012/04/28/perling-kumbang/
2. https://omkicau.com/2012/06/16/suara-burung-cucak-keling-atau-perling-kumbang-tajam-menyakitkan-telinga/
3. https://www.hbw.com/species/asian-glossy-starling-aplonis-panayensis

Referensi Gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/File:ImmatureAsianGlossyStarling.jpg

Tuesday, May 22, 2018

Mengenal Keindahan Burung Sikatan Emas

Kenalkah dengan burung Sikatan Emas? Mungkin belum banyak yang mengenal ataupun pernah melihatnya secara langsung. Hal ini pun wajar sebab burung Sikatan Emas memang bukan tergolong jenis burung ocehan yang umum dipelihara orang-orang. Selain itu, burung yang berasal dari keluarga Muscicapidae ini termasuk burung migrasi yang hanya datang ke wilayah hutan kita setiap setahun sekali. Walaupun demikian, suara kicauan yang dimilikinya terdengar lumayan merdu dan nyaring yang tak kalah dibandingkan jenis burung Sikatan yang sudah umum kita kenal. Untuk itulah penulis pun coba menguliknya lebih jauh lagi agar kita semuanya dapat semakin mengenali burung Sikatan Emas.

Burung Sikatan Emas merupakan salah satu dari ragam jenis burung Sikatan yang rutin bermigrasi ke wilayah hutan Indonesia setiap tahunnya. Daerah di Indonesia yang menjadi rumah sementaranya banyak terdapat di kawasan Sunda Besar yang meliputi daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Selain ke Indonesia terdapat juga negera lainnya yang dituju burung Sikatan Emas seperti negara-negara di Asia Tenggara dan selatan Tiongkok. Sedangkan negara yang menjadi tempatnya berkembangbiak tersebar di negara Tsanbaikalia, Mongolia, Rusia, Tiongkok, Korea, dan Jepang.

Disamping itu, area alam liar yang menjadi habitatnya umumnya berupa dataran tinggi dengan rentang sekitar 900 meter dpl. Area alam liar yang ditinggalinya berupa hutan sekunder dan semak belukar yang masih banyak terdapat pepohonannya. Kebiasaannya saat mencari makanan seringnya bergerak sendirian dengan menangkap serangga kecil. Karakter atau sifatnya dikenal cukup pemalu yang lebih bersembunyi dibalik tajuk pohon tinggi yang rindang sambil mengeluarkan suara kicauannya. Hanya saja mengingat tempat berkembangbiaknya tidak berada di wilayah hutan Indonesia sehingga tidak diketahui terkait waktu reproduksi dan jumlah telur yang dierami indukannya.
Baca juga:
Nah, ukuran tubuh burung Ficedula zanthopygia yang dipanggil dalam bahasa latin ini lumayan kecil yang panjangnya hanya sekitar 13 cm saja. Akan tetapi untuk ciri corak warnanya terdapat perbedaan yang lumayan mencolok antara jantan dan betinanya. Untuk penjelasannya dapat dibaca di bawah ini:
Burung Sikatan Emas Jantan
1. Burung Sikatan Emas jantan:

  • Berwarna hitam pekat yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna putih terang terdapat dibagian atas matanya berupa garis panjang yang cukup tebal dan diarea sayapnya.
  • Berwarna kuning muda cerah yang terlihat dibagian tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya.
  • Matanya berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot agak tajam.
  • Paruhnya yang berwarna hitam berukuran sedang dan terlihat tipis
  • Lalu kakinya berwarna hitam dengan ukuran sedang.

Burung Sikatan Emas Betina
2. Burung Sikatan Emas betina:

  • Berwarna hijau zaitun tua keabu-abuan yang menutupi bagian mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, dan punggungnya.
  • Berwarna hitam keabu-abuan yang tampak dibagian sayap, punggung belakang, dan ekornya.
  • Berwarna abu-abu kusam yang terlihat dibagian tenggorokan, dada, perut, hingga ke tunggirnya.
  • Paruhnya berwarna hitam yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  • Ekornya berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.

Setelah selesai membicarakan ciri fisiknya maka selanjutnya perlu mengetahui terkait ciri kicauannya. Suara kicauannya tergolong lumayang nyaring dan agak melengking dengan volume yang tidak terlalu tinggi. Tempo kicauannya terdengar lumayan rapat yang seperti bunyi crecetan yang berirama merdu. Nada kicauannya berupa: “pirip....pirippp” dan “tiitttt” yang dibunyikan secara terus-menerus dengan durasi hampi 40 detik lamanya.

Yup, begitulah ulasan seputar burung Sikatan Emas yang tergolong burung migrasi dengan suara kicauan merdu dan nyaring. Selain itu, burung yang berwarna keemasan ini tidak hanya cocok dipelihara tapi juga bisa dipergunakan untuk memaster burung ocehan yang nantinya akan diperlombakan. Hanya saja, keberadaannya di pasar burung ocehan sangat sulit dijumpai sehingga ada baiknya memang mencari rekaman suaranya yang ada di internet. Okey.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2013/03/16/sikatan-emas/
2. https://www.hbw.com/species/yellow-rumped-flycatcher-ficedula-zanthopygia
3. http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_sikatan_emas.htm

Referensi Gambar:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Male_Yellow-rumped_Flycatcher_(Ficedula_zanthopygia)_Korea_May_2012.jpg
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Ficedula_zanthopygia_1.jpg

Monday, May 21, 2018

Sikatan Bubik, Si Burung Ocehan Migran yang Bersuara Merdu

Berbicara tentang jenis burung Sikatan mungkin sudah banyak di antara kita yang mengenal ataupun sedang memeliharanya. Ya, jenis burung Sikatan tergolong jenis burung ocehan yang cukup banyak diminati dikarenakan suara kiauannya yang merdu dan bervariasi. Hanya saja, yang biasanya dipelihara untuk dijadikan burung rumahan ataupun diikutkan dalam perlombaan kebanyakan burung penetap yang berkembangbiaknya di wilayah hutan kita. Padahal ada juga jenis burung Sikatan yang terdapat di Indonesia tergolong burung migrasi yang habitat aslinya memiliki musim dingin. Untuk itu pada tulisan ini coba mengulik salah satu jenis burung Sikatan yang rutin bermigrasi ke wilayah hutan Indonesia. Dan nama burung tersebut adalah burung Sikatan Bubik.

Mendengar nama burung Sikatan Bubik mungkin agak terasa asing di telinga kita. Hal tersebut wajar sebab burung Sikatan Bubik tergolong jenis burung ocehan migrasi yang rutin mengunjungi beberapa daerah di wilayah hutan Indonesia. Daerah di Indonesia yang menjadi habitat sementaranya terdiri dari daerah Kalimantan, Sumbawa, Sumatera, dan Sulawesi. Selain Indonesia terdapat juga beberapa negara lainnya yang menjadi tujuan bermigrasi seperti India, Filipina, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Sedangkan negara yang menjadi habitat asli burung Sikatan Bubik terdiri dari Siberia, Rusia, Mongolia, Tiongkok, Jepang, Pakistan, India, dan Nepal.
Burung Sikatan Bubik
Sewaktu bermigrasi mengunjungi wilayah hutan Indonesia biasanya terdapat di kawasan hutan perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian mencapai 1500 meter dpl. Area hutan yang ditempatinya berupa hutan sekunder, pinggir hutan, hutan terbuka, dan perkebunan. Kebiasaannya saat mencari makanan seringkali bergerak sendiri-sendiri ataupun terkadang bergabung bersama jenis burung ocehan lainnya. Selain itu, menu makanan yang dicarinya di hutan berupa serangga yang berukuran kecil. Hanya saja, mengingat burung Sikatan Bubik tergolong burung migrasi maka tidak diketahui terkait waktu berkembangbiak dan jumlah telurnya mengingat hal tersebut dilangsungkan di habitat aslinya.
Baca juga:
Nah, ukuran tubuh burung Muscicapa Dauurica yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong lumayan kecil dengan panjang maksimal hanya sekitar 12 cm saja. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna cokelat keabu-abuan yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, tengkuk, sisi wajah, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Berwarna putih keabu-abuan kusam tampak dibagian bawah tubuhnya seperti tenggorokan, dada, perut, hingga tunggirnya. 
  3. Paruhnya berwarna hitam dengan ada corak kuning dibagian bawahnya yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  4. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran agak besar dengan sorot yang tidak terlalu tajam.
  5. Ekornya berukuran cukup pendek yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar.
  6. Lalu kakinya berwarna hitam keabu-abuan yang berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Adapun corak warna kicauan burung Sikatan Bubik tergolong lumayan nyaring yang terdengar agak melengking. Selain nyaring terdapat juga getaran yang cukup halus dibagian awal hingga penutup kicauannya. Volume kicauannya tergolong lumayan tinggi dengan tempo yang agak rapat sehingga terdengar mirip suara crecetan. Nada kicauannya berupa “crrrr... ccrrr” yang dibunyikan dengan irama yang teratur dengan durasi hingga 30 detik.

Yup, begitulah kiranya ulasan terkait burung Sikatan Bubik yang termasuk burung migrasi dengan suara kicauan merdu dan nyaring. Tentunya, dari membaca artikel ini dapat menambah wawasan tentang ragam jenis burung Sikatan yang masih belum umum kita kenal. Hanya saja, sangat jarang ada yang menjual burung Sikatan Bubik di pasar burung untuk itu Anda pun bisa dapat mengunduh rekaman suaranya yang ada di internet.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2013/03/17/sikatan-bubik/
2. http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_sikatan_bubik.htm
3. https://www.hbw.com/species/asian-brown-flycatcher-muscicapa-dauurica#Descriptive_notes

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Asian_Brown_Flycatcher_(Muscicapa_dauurica)_-_Flickr_-_Lip_Kee_(2).jpg

Sunday, May 20, 2018

Mengenal Kemerduan Suara Kicauan Burung Cinenen Belukar

Jenis burung ocehan yang berasal dari keluarga Sylviidae termasuk memiliki ukuran tubuh yang mungil dengan panjang rata-rata kurang dari 15 cm. Hanya saja, walaupun kecil suara kicauan yang dibunyikannya pun terdengar tak kalah merdu dibandingkan jenis burung ocehan biasanya kita kenal. Selain itu, keberadaannya di wilayah hutan Indonesia tergolong cukup banyak yang terdiri dari 45 jenis dan hanya sebagian kecil saja yang dikenal ataupun dipelihara orang-orang. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu di antaranya agar kita semakin mengetahuinya. Dan nama burung tersebut adalah burung Cinenen Belukar.

Burung Cinenen Belukar merupakan salah satu jenis burung ocehan dar keluarga Sylviidae yang tidak terlalu dikenal banyak orang. Area persebaran burung Cinenen Belukar cukup merata yang terdapat dibanyak negara Asia seperti India, Bangladesh, Myanmar, Tiongkok, Thailand, Kamboja Laos, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Selain itu, daerah di Indonesia yang terdapat populasinya tersebar di Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Anambas, dan Kepulauan Natuna bagian utara. Walaupun area persebarannya cukup luas tapi jumlah sub-spesiesnya hanya terdiri dari empat jenis yang meliputi Nitidus, Anambensis, Atrogularis, dan Humphreysi.
Burung Cinenen Belukar
Kehidupan burung Cinenen Belukar di alam terbuka tersebar merata mulai dari dataran rendah hngga perbukitan dan pegunungan dengan rentang ketinggian 1200 meter dpl. Begitu juga area hutan yang menjadi tempatnya untuk bersarang terdapat di kawasan hutan terbuka, hutan pinggir sungai, hutan sekunder, dan pekarangan yang tidak jauh dari pemukiman masyarakat. Biasanya jenis makanan yang dicari burung Cinenen Belukar setiap harinya berupa hewan invetebrata yang termasuk serangga salah satunya. Hanya saja, tidak diketahui secara pasti terkait masa berkembangbiaknya di Indonesia sehingga sulit mengetahui bentuk sarang dan jumlah telur yang dieraminya.
Baca juga:
Nah, pada paragraf awal telah disinggung bahwa ukuran tubuh burung dari keluarga Sylviidae tergolong kecil dan begitu juga dengan panjang tubuh burung Cinenen Belukar yang hanya sekitar 10 cm saja. Ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:
  1. Berwarna merah karat yang tampak dibagian mahkota kepala dan sisi wajahnya.
  2. Putih abu-abu agak kehitaman yang menutupi bagian bawah tubuhnya yang meliputi tenggorokan, sisi bawah wajah, dada, perut, hingga ke tunggirnya.
  3. Berwarna kuning hijau zaitun yang terlihat dibagian tengkuk, punggung, sayap, ekornya.
  4. Paruhnya yang berwarna hitam kemerahan berukuran sedang dan terlihat tipis.
  5. Matanya yang berwarna hitam kekuningan berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam.
  6. Ekornya yang berwarna kuning zaitun berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar.
  7. Lalu kakinya berukuran agak panjang dengan warna hitam kecokelatan.
Berbicara tentang ciri kicauannya telah dikatakan bahwa suara burung Orthotomus Atrogularis yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong merdu dan nyaring. Volume kicauan yang dibunyikannya lumayan tinggi yang terdengar agak melengking. Begitu juga dengan temponya yang tidak terlalu rapat tapi terdapat getaran yang cukup nyaring. Nada kicauannya berupa: “krii...riii..riii” yang berbunyi secara terus-menerus dengan durasi sekitar tiga puluh detikan. Walaupun demikian, suara kicauannya cukup lantang dan tajam yang menandakan mentalnya cukup kuat.

Okey, menarik bukan penjelasan seputar burung Cinenen Belukar yang berukuran mungil dengan suara kicauan yang nyaring. Tentunya, mungkin ada di antara para pembaca sekalian yang merasa tertarik dengan burung Cinenen Belukar maka tak ada salahnya mencarinya di pasar burung ataupun mengunduh audio suaranya yang ada di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
https://www.hbw.com/species/dark-necked-tailorbird-orthotomus-atrogularis
http://www.kutilang.or.id/2012/07/04/cinenen-belukar/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Dark-necked_Tailorbird.jpg

Saturday, May 19, 2018

Lebih Dekat Mengenal Burung Meninting Besar

Jenis burung ocehan yang berasal dari keluarga Turdidae telah umum dikenal orang-orang tidak hanya di Indonesia tapi juga diberbagai negara lainnya memiliki suara kicauan merdu dan bervariasi. Kicauan merdu nya tidak hanya membuatnya banyak dipelihara tapi juga sangat sering diikutkan dalam berbagai ajang perlombaan. Selain itu jenis burung ocehan dari keluarga Tudidae yang banyak dikenal hanya terbatas pada jenis burung Murai Batu, Anis Merah, Kacer, dan Anis Kembang. Karenanya, penulis pun coba mengulik yang belum terlalu dikenal orang-orang. Dan nama burung ocehan tersebut adalah burung Meninting Besar.

Burung Meninting Besar merupakan salah satu dari tiga jenis burung Meninting yang berasal dari keluarga Turdidae. Keberadaan burung Meninting Besar tersebar merata kebarbagai negara di kawasan Asia mulai dari Nepal, Tiongkok, Thailand, Myanmar, Malaysia dan Indonesia. Selain itu, daerah di Indonesia yang banyak terdapat populasi burung Meninting Besar berada di kawasan Sunda Besar yang meliputi Pulau Sumatera, Nias, Pulau Batu, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Walaupun area persebarannya cukup luas tapi jumlah sub-spesiesnya tidak terlalu banyak hanya sekitar enam jenis yang terdiri dari Indicus, Sinensis, Frontalis, Borneensis, Chaseni, dan Leschenaulti.
Burung Meninting Besar
Sedangkan keberadaan burung Meninting Besar di alam liar juga tersebar cukup merata mulai dari dataran rendah hingga perbukitan yang rentang ketinggian mencapai 1400 meter dpl. Area tempat hidupnya di alam liar tak jauh dari sumber air ataupun aliran air sungai yang banyak terdapat pepohonan rindang. Dipilihnya area dekat yang menjadi habitatnya sebenarnya tak bisa dilepaskan dari kebiasaannya yang sering membasahi bulu-bulu di kepala dan sayapnya agar tidak mudah kusam saat terlalu lama terpapar sinar matahari. Untuk itu, burung Meninting Besar sangat sering terlihat meloncat dari satu batu ke batu lain yang ada di dekat aliran sungai.

Sewaktu mencari makanan biasanya burung Meninting Besar terbang secara sendirian atau berpasangan. Tempat nya mencari makanan tentu tak jauh dari aliran sungai dengan mematuk tanah untuk memakan jangkrik, ulat, larva, dan siput. Selain itu, masa berkembangbiak yang dijalaninya berlangsung sekitar bulan April hingga Juni dengan membangun sarang yang diletakkan di antara akar-akar pohon dekat aliran sungai. Jumlah telur yang biasanya dierami sang indukan tidak terlalu banyak yang hanya sekitar empat butir saja.
Baca juga:
Nah, ukuran tubuh burung Enicurus Leschenaulti yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong sedang dengan panjang sekitar 25 sentimeter. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna hitam pekat yang menutupi sebagian besar anggota tubuhnya mulai dari belakang kepala, tengkuk, punggung, wajah, tenggorokan, dada, pangkal perut, dan bagian atas ekornya.
  2. Berwarna putih cerah yang tampak dibagian depan mahkota kepala, sisi tengah punggung sayap berupa garis panjang vertikal, punggung belakang, ekor berupa bercak bergaris, perut, hingga tunggirnya. 
  3. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang memiliki sorot yang agak tajam.
  4. Paruhnya yang berwarna hitam berukuran agak panjang dan terlihat agak tebal.
  5. Ekornya yang berwarna hitam dan putih ini berukuran lumayan panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang lebar.
  6. Kakinya yang berwarna merah muda berukuran sedang dengan cakar yang tidak terlalu tajam.

Berbicara tentang suara kicauan burung Meninting Besar terdengar tak kalah merdu dibandingkan jenis burung lainnya dari keluarga Turdidae. Suara kicauannya tergolong nyaring dengan adanya siulan ganda yang bergetar. Volume kicauannya juga tidak terlalu tinggi yang terdengar tidak sampai melengking di telinga. Hanya saja, irama kicauanya cenderung kurang stabil dengan suara yang agak monoton atau diulang-ulang. Walaupun demikian, secara umum suara kicauannya tetap terdengar cukup lantang dan tajam.

Yup, menarik bukan penjalasan tentang burung Meninting Besar yang dimuat dalam artikel ini. Tentunya dengan membaca artikel ini semakin dapat menambah wawasan kita wawasan kita tentang ragam jenis burung ocehan yang belum banyak dikenal dan terutama yang berasal dari keluarga Turdidae.

Referensi Tulisan:
https://www.hbw.com/species/white-crowned-forktail-enicurus-leschenaulti#Descriptive_notes
http://www.kutilang.or.id/2012/06/26/meninting-besar/
https://omkicau.com/2014/07/10/meninting-besar-burung-pesolek-yang-tak-mau-jauh-dari-air/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Enicurus_leschenaulti.jpg

Friday, May 18, 2018

Mengulik Lebih Jauh Tentang Burung Pelatuk Besi

Kenalkah dengan burung Pelatuk Besi? Mungkin belum banyak di antara kita yang mengenal ataupun pernah menatapnya secara langsung. Hal ini pun wajar sebab jenis burung Pelatuk Besi memang belum umum dikenal sebagai burung ocehan seperti Murai Batu, Kacer, ataupun Pleci. Hanya saja, sedikit informasi di awal bahwa burung Pelatuk Besi tidak hanya dikenal piawai membangun sarang pada tengah batang pohon dengan cara mematuk tapi juga suara kicauannya terdengar lumayan nyaring. Karenanya penulis pun coba menguliknya lebih jauh lagi agar kita semuanya semakin mengetahuinya.

Burung Pelatuk Besi tergolong salah satu  jenis burung Pelatuk yang berasal dari keluarga Picidae. Keberadaan burung Pelatuk Besi di wilayah hutan Indonesia banyak tersebar di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Begitu juga dengan keberadaannya di negara lain tidak hanya terdapat dibeberapa negara tetangga kita tapi juga tersebar keberbagai negara Asia lainnya seperti Filipina, Thailand, Myanmar, Vietnam, Bangladesh, dan Tiongkok. Walaupun area persebaran burung Pelatuk Besi lumayan luas tapi jumlah sub-spesiesnya tak kalah banyak yang hanya terdiri dari enam jenis yakni Malabaricum, Intermedium, Everetti, Javanense, Raveni, dan Exsul.
Burung Pelatuk Besi
Kebiasaan burung Pelatuk Besi yang terdapat di alam liar biasanya mendiami area dataran rendah hingga perbukitan dengan rentang ketinggian hanya mencapai 1000 meter dpl. Area hutan yang menjadi habitatnya terdiri dari hutan mangrove, hutan sekunder, hutan terbuka yang tidak terlalu banyak pepohonan, dan lahan terbuka berupa perkebunan dan pekarangan. Begitu juga dengan kebiasaannya saat mencari makanan seringnya bergerak secara berpasangan dengan mencari serangga kecil termasuk kalajengking dan larva serangga. Waktu berkembangbiak yang dijalaninya tergolong cukup panjang mulai dari April sampai Juli dan November hingga Desember dengan jumlah telur sekitar tiga butir.
Baca juga:
Adapun ciri fisik burung Dinopium Javanense yang dipanggil dalam bahasa latin ini tergolong cukup besar dengan panjang sekitar 30 cm. Dan ciri fisik lainnya bisa dibaca ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna merah yang hanya terlihat dibagian mahkota kepalanya saja. Mahkota kepalanya berbentuk memanjang dan agak ramping serta meninggi.
  2. Warna hitam terlihat dibagian wajah berupa garis panjang, tenggorokan, sisi bawah sayap, perut, dan tunggirnya.
  3. Warna putih cerah tampak mendominasi dibagian wajah, tenggorokan, dada, hingga perutnya yang bercampur dengan bercak hitam.
  4. Warna kuning tua keemasan juga hanya tampak dibagian punggung, keseluruhan area sayap, dan ekornya.
  5. Paruhnya yang berwarna hitam berukuran lumayan panjang dan terlihat tebal yang berguna untuk melubangi batang pohon yang nantinya dipakai sebagai sarangnya.
  6. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan juga berukuran sedang dan tidak terlalu memiliki sorot yang tajam.
  7. Ekornya berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  8. Lalu kakinya yang berwarna hitam keabu-abuan berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Nah, suara kicauan burung Pelatuk Besi tergolong lumayan merdu dan nyaring yang tak kalah dibandingkan jenis burung ocehan lainnya. Kicauan nyaring yang dimilikinya bervolume cukup kencang atau agak tinggi dengan tempo yang cukup rapat. Irama kicauannya juga cukup teratur baik saat menaikkan ataupun menurunkan nada suaranya. Selain itu, nada kicauannya berupa “carrrr... carrr” dibunyikan secara terus-menerus dengan adanya getaran yang agak samar terdengar. Walaupun demikian, suara kicauan burung Pelatuk Besi lumayan lantang sehingga bisa dipakai untuk memaster burung ocehan dan mampu mendorongnya supaya lebih aktif berkicau.

Okey, mungkin begitulah penjelasan seputar burung Pelatuk Besi yang suara kicauannya tidak kalah nyaring dibandingkan suara kicauan burung ocehan lainnya. Hanya saja, mengingat sangat sedikitnya yang memelihara burung Pelatuk Besi maka ada baiknya kita tidak perlu memaksakan untuk merawatnya karena tidak banyak juga informasi khusus tentang perawatan burung Pelatuk Besi. Dan bagi Anda yang tertarik dengan suara kicauannya maka bisa melirik ke internet untuk mengunduhnya agar nantinya bisa dipergunakan untuk memaster burung ocehan Anda di rumah. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
https://omkicau.com/2013/10/25/tips-penangkaran-burung-pelatuk-bawang/
http://www.kutilang.or.id/2013/04/11/pelatuk-besi/
https://www.hbw.com/species/common-flameback-dinopium-javanense

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Common_Flameback_(Dinopium_javanense_javanense)_-_Flickr_-_Lip_Kee_(2).jpg