Showing posts with label burung ocehan. Show all posts
Showing posts with label burung ocehan. Show all posts

Wednesday, October 9, 2019

Burung-madu Pengantin, Si Burung Ocehan Mungil yang Bersuara Nyaring

Jenis burung-madu dikenal sebagai jenis burung ocehan yang tidak hanya dikenal memiliki corak warna bulu yang bervariasi dan mencolok tapi juga ukuran tubuhnya tergolong sangat kecil atau mungil. Selain itu, suara kicauannya dikenal cukup nyaring dan lumayan melengking di telinga. Apalagi jenis burung-madu yang tersebar di wilayah Indonesia tergolong banyak yang mencapai 16 jenis. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satunya yang mungkin belum familiar bagi para pembaca sekalian. Adapun namanya adalah burung-madu Pengantin.

Burung-madu Pengantin merupakan salah satu jenis burung-madu yang berasal dari keluarga Nectariniidae. Keberadaannya di Indonesia diketahui hanya tersebar di kawasan Sunda Besar yang meliputi Sumatera, Kepulauan Natuna dibagian utara, Pulau Simeulue, Jawa, dan Kalimantan. Selain itu, area persebarannya juga terdapat dibanyak negara lainnya di kawasan Asia yang mencakup negara India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Luasnya area persebaran burung-madu Pengantin mungkin tak terlepas dari jumlah sub-spesiesnya yang mencapai sembilan jenis dengan tiga di antara nya terdapat di Indonesia.
Burung-madu Pengantin
Adapun kehidupan burung yang bernama latin Leptocoma Sperata ini banyak tersebar di dataran rendah dengan ketinggian hanya sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Area dataran rendah yang ditempatinya tergolong cukup bervariasi mulai dari hutan mangrove, hutan dekat pantai, hutan di area dataran rendah, dan area perkebunan yang ada pepohonan dan bunga nya. Biasanya jenis makanan yang rutin disantapnya juga tak kalah beragam mulai dari nektar bunga, biji-bijian, buah-buahan segar, dan serangga yang banyak terdapat di area hutan. Saat memasuki musim kawin yang terjadi antara bulan Januari sampai Mei biasanya sang indukan akan membangun sarang yang bentuknya mirip kantung dengan menggunakan akar-akar, serat pohon, dan jaring laba-laba sebagai perekatnya. Jumlah telur yang mampu dierami indukannya bisa mencapai dua butir.

Sesuai dengan judulnya bahwa ukuran fisik burung-madu Pengantin tergolong sangat kecil atau mungil dengan panjang hanya sekitar 10 cm saja. Corak warna bulunya secara umum terlihat agak mencolok dan gelap yang terdiri dari warna hijau tua, ungu kehitaman metalik, cokelat tua, merah, biru, dan hitam. Warna hijau tua hanya terdapat dibagian atas mahkota kepala nya saja. Warna ungu kehitaman metalik tampak menutupi bagian keseluruhan bagian tenggorokan dan pangkal dadanya saja. Warna cokelat tua terlihat dibagian keseluruhan punggung dan sisi pangkal sayapnya. Warna merah tampak menutupi area dada, perut, hingga tunggirnya. Warna biru terlihat dibagian sisi pangkal sayap dan pangkal ekornya. Lalu warna hitam terdapat dibagian sisi wajah, sayap, sisi bawah perut, dan ekornya.

Ciri lainnya yang bisa kita kenali lebih jauh dari burung-madu Pengantin memiliki paruh berwarna hitam dan agak melengkung ke bawah dibagian ujungnya. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang terlihat agak tajam. Ekornya yang berwarna kehitaman berukuran sedang yang bulu-bulunya terlihat agak lebar. Lalu kakinya yang berwarna hitam berukuran sedang dengan kuku-kuku yang tajam.

Sedangkan ciri suara kicauan burung yang dipanggil dalam bahasa Inggris Purple-throated Sunbirds ini tergolong nyaring dan agak melengking di telinga. Nada suaranya berupa cicitan yang terdengar seperti: “ciii...ciii..ciiip” yang dibunyikan secara terus-menerus. Volume kicauannya terdengar cukup tajam dengan tempo sedang dan tergolong lumayan tajam.

Walaupun burung-madu Pengantin bukanlah tergolong jenis burung ocehan dilindungi tapi mengingat perannya cukup penting dalam penyerbukan tanaman di alam liar maka ada baiknya kita tidak perlu menangkap atau memeliharanya. Tujuannya agar kelestariannya di alam liar tetap terjaga dan aktivitas penyerbukan tanaman tidak sampai terganggu. Dan bagi Anda yang tertarik dengan ciri suara kicauannya maka bisa mengunduhnya dari internet. Okey.

Sumber Tulisan:
1) http://www.kutilang.or.id/2012/04/04/burung-madu-pengantin-2/
2) https://www.hbw.com/species/purple-throated-sunbird-leptocoma-sperata

Sumber Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Leptocoma_sperata_(male)_-Singapore-8.jpg

Saturday, October 5, 2019

Burung-buah Jambul, Si Burung Ocehan Endemik dari Tanah Papua

Bila mendengar nama burung-buah Jambul mungkin masih belum familiar di telinga para pembaca sekalian. Hal ini pun terasa wajar dikarenakan burung-buah Jambul masih tergolong burung liar yang belum umum dijadikan sebagai burung peliharaan. Selain itu, area persebarannya pun sangat terbatas yang hanya terdapat di Pulau Papua dan sekitarnya saja. Walaupun demikian, kita tetap perlu juga mengenalnya sebab corak warna bulunya cukup bervariasi yang terlihat mencolok dan indah. Untuk itu lah pada tulisan ini coba menguliknya agar kita bisa semakin mengenalinya.

Burung-buah Jambul merupakan salah satu dari delapan jenis burung-buah yang berasal dari keluarga Dicaeidae. Disinggung pada paragraf awal bahwa area persebarannya diketahui hanya terdapat di tanah Papua yang meliputi Pegunungan Weyland, Pegunungan Snow, area Gunung Wilhelmina, Gunung Jayawijaya, sekitar lereng pegunungan Snow, area sekitar Pegunungan Star, dan bagian semenanjung Huon. Walaupun area persebarannya hanya terbatas di Pulau Papua saja tapi jumlah sub-spesiesnya tergolong agak banyak yang mencapai empat jenis.
Burung-buah Jambul
Sedangkan sewaktu berada di alam liar biasanya burung yang bernama latin Paramythia Montium ini hanya tersebar di area perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian maksimal mencapai 2500 meter di atas permukaan laut. Area alam liar yang menjadi habitatnya pun banyak tersebar dibagian hutan sub alpin, hutan terbuka, semak belukar, dan hutan sekunder yang cukup jarang dilewati orang-orang. Kebiasaannya saat mencari makanan seringnya bergerak secara berpasangan dan terkadang membentuk kelompok kecil dengan bertengger di atas pohon maupun turun ke area permukaan tanah. Selain itu, jenis makanan yang rutin disantapnya hanya berupa buah-buahan dan biji-bijian saja.

Adapun ciri fisik burung-buah Jambul memiliki panjang yang tidak jauh berbeda dari jenis burung ocehan lainnya sekitar 20 cm saja. Nah, corak warna bulunya tampak sangat indah yang terdiri dari  hitam pekat, putih, hijau tua, kuning, dan biru tua. Warna hitam terlihat jelas menutupi bagian jambul mahkota kepala, sisi depan wajah dekat paruh, tenggorokan, dan dadanya. Warna putih hanya terdapat dibagian atas kepala sampai ke area tengkuk, warna hijau tua terliat dibagian punggung, sayap, dan sedikit dibagian sisi bawah dekat perutnya. Warna kuning hanya terlihat dibagian sisi bawah sayap dan tunggirnya. Lalu warna biru tua terdapat dibagian sisi wajah, pangkal punggung, perut, dan ekornya.

Begitu juga dengan paruhnya yang berwarna hitam pekat dengan ukuran sedang dan terlihat agak tebal. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan tua berukuran sedang dengan sorot yang cukup tajam. Pada bagian atas kepalanya terdapat jambul berukuran agak panjang yang bisa ditegakkannya. Ekornya yang berwarna kebiruan tua berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar. Lalu kakinya yang berwarna kecokelatan tua berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Disamping itu, ciri suara kicauan burung yang dalam bahasa Inggris disapa dengan Crested Berrypecker ini kurang terlalu nyaring dan merdu. Nada suaranya terdengar agak parau pendek atau mirip suara kecupan yang tidak terlalu kencang. Volume kicauannya juga lumayan pelan dengan tempo yang agak cepat.

Yup, demikianlah penjelasan seputar burung-buah Jambul yang corak warna bulunya terlihat sangat indah dengan adanya jambul dibagian kepalanya. Hanya saja, mengingat keberadaannya yang terbatas di Pulau Papua saja maka ada baiknya kita tidak perlu menangkap atau memeliharanya agar kelestariannya di alam liar tetap terjaga dan terhindar dari ancaman kepunahan. Okey.

Sumber Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/04/20/burung-buah-jambul/
https://www.hbw.com/species/eastern-crested-berrypecker-paramythia-montium

Sumber Gambar:
https://www.hbw.com/species/eastern-crested-berrypecker-paramythia-montium

Tuesday, September 17, 2019

Bondol Taruk, Si Burung Ocehan Endemik yang Bertubuh Mungil

Jenis burung Bondol atau terkadang dipanggil dengan nama Pipit ini tergolong jenis burung ocehan yang keberadaannya cukup banyak terdapat disekitar persawahan dan ladang. Area persebarannya di Indonesia pun tergolong cukup merata mirip gelatik dan gereja yang hampir bisa ditemui diseluruh daerah. Akan tetapi tidak semua jenis burung Bondol yang ada di Indonesia tergolong sebagai burung endemik sebab banyak juga di antaranya yang berhabitat di negara-negara lain hingga kekawasan Asia Selatan. Untuk itu pada tulisan ini coba mengenalkan salah satu jenis burung Bondol yang persebarannya hanya ada di Indonesia atau dikenal sebagai burung endemik. Adapun namanya adalah burung Bondol Taruk.
Burung Bondol Taruk
Burung Bondol Taruk merupakan salah satu jenis burung Bondol yang hanya tersebar dibeberapa daerah di Indonesia. Daerah di Indonesia yang menjadi habitatnya hanya terdapat di wilayah timur yang meliputi Kepulauan Talaud, Sangihe, Ruang, Siau, Sulawesi, Kepulauan Sula, Maluku, Halmahera, Seram, Kai, Kepulauan Kangean, Lembongan, Sumbawa, Komodo, Sumba, Flores, Adonara, Pantar, Alor, Timor dan Tanimbar. Walaupun area persebarannya tergolong cukup luas di wilayah timur Indonesia tapi jumlah sub-spesiesnya hanya sekitar dua jenis saja.

Disamping itu, sewaktu berada di alam terbuka biasanya burung yang dalam bahasa latin disapa dengan nama Lonchura Molucca ini mendiami area terbuka baik di dataran rendah hingga ke perbukitan dengan ketinggian mencapai 1000 meter di atas permukaan laut. Area alam terbuka yang disukainya berupa padang rumput sekunder yang ada pepohonannya, pinggiran jalan, persawahan, ladang, dan taman-taman perkotaan. Kebiasaannya saat mencari makanan tidak jauh beda dari jenis Bondol lainnya yang bergerak secara berkelompok. Selain itu, musim kawin yang dijalaninya biasanya berlangsung sekiltar bulan Maret sampai September dalam setahun tapi tidak diketahui dengan jelas terkait bentuk sarang dan jumlah telur yang dierami indukannya.

Sedangkan ciri kicauan burung Bondol Taruk ini terdengar lumayan tapi tidak sampai melengking di telinga. Volume kicauan yang dibunyikannya pun tergolong sedang dengan tempo khas yang rapat. Bunyi suaranya terdengar seperti cicitan yang terdiri dari tiga sampai empat nada yang diulangi secara terus-menerus atau terdengar monotong di telinga. Walaupun demikian, secara umum suara kicauannya cukup riuh sebab dibunyikan secara bersama-sama dalam kelompoknya.

Adapun ciri fisik yang tampak pada burung Bondol Taruk ini memiliki panjang tubuh yang tergolong kecil yakni sekitar 11 cm saja. Corak warna bulunya terdiri dari tiga warna yakni cokelat tua kehitaman, cokelat, dan putih. Warna cokelat tua kehitaman tampak menutupi bagian atas mahkota kepala, sisi wajah, tenggorokan, pangkal dada, sayap, dan ekornya. Warna cokelat hanya aterlihat dibagian belakang kepala, tengkuk, punggung, sayap, dan seluruh area bawah tubuhnya berupa bintik-bintik kecil tidak beraturan. Lalu warna putih terlihat menjadi warna dasar yang terdapat dibagian dada, perut, dan tunggirnya.

Ciri lainnya yang bisa dikenali lebih jauh dari jenis burung Bondol ini ialah paruhnya yang berwarna hitam berukuran pendek dan tebal dengan bentuk saat mengatup mirip segitiga. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang tidak terlalu tajam. Ekornya juga berukuran sedang dengan hanya terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar. Lalu kakinya berwarna hitam yang berukuran sedang dan terlihat agak berisi atau berotot.

Nah, bagaimana menarik bukan penjelasan seputar burung Bondol Taruk yang keberadaannya hanya tersebar di wilayah Indonesia saja. Untuk itu, dengan membaca artikel ini sampai tuntas kiranya dapat menambah wawasan kita seputar ragam jenis burung ocehan yang jarang dibicarakan banyak orang terutama dari jenis burung Bondol. Okey.

Sumber Tulisan:
1) http://www.kutilang.or.id/2012/01/19/bondol-taruk/
2) https://www.hbw.com/species/black-faced-munia-lonchura-molucca

Sumber Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Black-faced_Munia_-_Sulawesi_MG_5777_(22799479470)_(cropped).jpg

Wednesday, December 19, 2018

Mengulik Keindahan Burung Niltava Kumbang-padi

Jenis burung ocehan yang tersebar di wilayah hutan Indonesia tergolong cukup banyak dengan nama dan corak warna yang beragam. Sebagian besar dari jenis burung ocehan tersebut memiliki suara kicauan yang tergolong merdu dan nyaring. Akan tetapi, umumnya yang dikenal orang-orang biasanya yang banyak dipelihara maupun sering diikutkan dalam perlombaan. Untuk itu pada tulisan ini coba mengulik salah satu jenis burung ocehan yang tidak terlalu dikenal orang-orang tapi memiliki corak warna bulu yang indah dan suara kicauan yang merdu. Adapun namanya adalah burung Niltava Kumbang-padi.

Mendengar nama burung Niltava Kumbang-padi mungkin terasa asing di telinga para pembaca sekalian. Ya, hal ini dirasa wajar sebab jenis burung Niltava Kumbang-padi hanya terdapat di wilayah Pulau Sumatera saja. Akan tetapi, burung ini pun juga tersebar keberbagai negara di kawasan Asia lainnya seperti Nepal, India, Tiongkok, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, dan Malaysia. Selain itu, area hutan yang umumnya dijadikan tempat tinggalnya berada di dataran tinggi dengan rentang 900 sampai 2500 meter di atas permukaan laut.
Burung Niltava Kumbang-padi
Kehidupan burung yang bernama latin Niltava grandis ini di alam liar biasa mendiami area hutan bawah gunung yang banyak ditumbuhi pepohon dan hutan pegunungan yang tidak jauh dari aliran sungai. Saat mencari makanan berupa serangga dan buah-buahan yang berukuran kecil seringnya dilakukan secara sendirian. Selain itu, sewaktu memasuki musim berkembangbiak biasanya indukan akan membangun sarangnya yang berupa mangkuk berukuran kecil yang diletakkan dekat cabang pohon.

Ukuran fisik burung Niltava Kumbang-padi tergolong sedang dengan panjang sekitar 22 cm. Corak warna bulunya terdapat perbedaan yang mencolok antara jantan dan betinanya. Bagi burung jantan memiliki tiga jenis corak warna yakni biru tua biasa, biru tua mengkilap, dan hitam. Warna biru tua biasa tampak menutupi area mahkota kepala, sisi tenggorokan, sisi sayap, pertengahan punggung, dan area atas ekornya. Warna biru tua mengkilap terlihat diarea atas tubuhnya seperti hampir keseluruhan punggung dan sayapnya. Lalu warna hitam terdapat diarea wajah, tenggorokan, ujung sayap, bagian tengah ekor, dada, dan perutnya.

Baca juga:

Adapun burung Niltava Kumbang-padi betina bercorak warna cenderung agak kusam dengan warna abu-abu kebiruan, cokelat zaitun, dan putih kusam. Warna abu-abu kebiruan tampak diarea mahkota kepala dan sisi lehernya. Warna cokelat zaitun terlihat menutupi hampir keseluruhan tubuhnya seperti sisi wajah, tenggorokan, dada, punggung, sayap, perut, dan ekornya. Lalu warna putih kusam hanya terlihat di area tenggorokannya saja. Selain itu, persamaan antara jantan dan betinanya memiliki paruh berwarna hitam yang berukuran kecil, matanya berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan bentuk bulat. Ekornya berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar. Kakinya berwarna abu-abu kehitaman dengan ukuran sedang dan tampak agak kurus.

Sedangkan suara kicauan burung Niltava Kumbang-padi tergolong merdu dan agak melengking. Volume kicauan yang dibunyikannya lumayan tinggi dengan irama naik-turun nada yang teratur. Tempo kicauannya tidak terlalu rapat dengan nada berupa siulan seperti: “k tiuu...tiuu...tii”. Selain itu, burung Niltava Kumbang-padi juga memiliki beberapa jenis suara lainnya yang salah satunya terdengar agak berderik dnegan volume tinggi.

Nah, begitulah kiranya penjelasn seputar burung Niltava Kumbang-padi yang tidak hanya memiliki corak warna indah tapi juga bersuara merdu dan nyaring. Untuk itu dengan membaca artikel ini sampai tuntas mungkin dapat menambah wawasan kita seputar ragam jenis burung ocehan yang jarang dibicarakan banyak orang. Okey.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2013/03/21/niltava-kumbang-padi/
2 https://omkicau.com/2014/09/19/burung-niltava-penampilannya-mirip-tledekan/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Large_Niltava_-_Thailand_S4E0165_(19324739065).jpg

Sunday, December 16, 2018

Mengulas Lebih Jauh Burung Kipasan Dada-hitam

Bila ditanyakan tentang burung Kipasan Dada-hitam mungkin tidak banyak yang mengenal ataupun pernah melihatnya di alam liar. Hal ini dirasa wajar sebab burung Kipasan Dada-hitam memang tidak seterkenal jenis Kipasan lainnya yang sering dipelihara orang-orang. Selain itu, habitat burung Kipasan ini pun tidak tersebar merata diberbagai daerah melainkan hanya terdapat dibeberapa daerah saja. Untuk itu pada artikel ini coba mengulasnya lebih jauh lagi agar semakin banyak yang mengenalinya.

Burung Kipasan Dada-hitam merupakan salah satu dari ragam jenis burung Kipasan yang terdapat di Indonesia. Penyebarannya hanya terbatas di wilayah timur Indonesia yang meliputi area utara Maluku, Ternate, Bacan, Obi, dan selatan Papua. Selain itu, keberadaannya juga bisa ditemui disekitar negara tetangga seperti Papua Nugini dan Australia. Terbatasnya daerah yang menjadi habitat bagi burung Kipasan Dada-hitam membuatnya tidak banyak dikenali oleh para pecinta burung ocehan.
Burung Kipasan Dada-hitam
Kehidupan burung yang bernama latin Rhipidura Rufifrons ini di alam liar biasanya tersebar merata mulai dari dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian mencapai 2000 meter di atas permukaan laut. Area hutan yang menjadi tempat tinggalnya pun cukup beragam mulai dari hutan primer, hutan sekunder, hutan mangrove, hutan meranggas, dan area pantai yang terdapat pepohonan. Sewaktu mencari makanan umumnya dengan mendatangi area permukaan tanah hingga tajuk pohon. Jenis makanan yang disantapnya setiap hari berupa serangga kecil yang banyak terdapat di hutan dekat pantai maupun pegunungan.

Baca juga:

Ukuran tubuh burung Kipasan Dada-hitam tidak jauh berbeda dengan jenis Kipasan lainnya yang panjangnya sekitar 17 cm. Corak warna bulunya terdiri dari beberapa jenis warna seperti merah karat, cokelat keabu-abuan, hitam, dan putih. Warna merah karat tampak dibagian depan kepala, punggung belakang, pangkal ekor, dan tunggirnya. Warna cokelat keabu-abuan terlihat menutupi area mahkota kepala, area perut, punggung, dan sayapnya. Warna hitam terdapat disekitaran area sisi wajah, dada, bawah sayap, dan belakang ekornya. Lalu warna putih tampak mencolok di area tenggorokan, dada berupa garis-garis yang mirip sisik, dan pangkal ekornya.

Disamping itu juga, burung Kipasan Dada-hitam memiliki paruh berwarna hitam yang berukuran kecil. Matanya berwarna hitam pekat yang berukuran sedang dan tampak bulat. Sayapnya  berukuran agak panjang yang mencapai area pangkal ekornya. Ekornya berukuran agak panjang yang cukup sering dikembangkan saat mencari makanan atau sedang berkicau yang mirip bentuk kipas. Kakinya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan bentuk agak kurus atau kecil.

Adapun ciri kicauan burung yang dalam bahasa Inggris dipanggil Rufous Fantail ini tergolong nyaring dan agak melengking dengan volume yang sedang. Tempo kicauannya tidak terlalu rapat dengan suara bergetar dibagian pangkal kicauan dan diikuti irama melengking. Nada kicauannya terdengar seperti “kikk... kikk... cwitt” yang dibunyikan secara terus-menerus dan durasinya agak panjang yang mencapai hampir satu menit.

Yup, demikianlah ulasan seputar burung Kipasan Dada-hitam yang penyebarannya di Indonesia hanya terbatas dibeberapa daerah saja. Untuk itu dengan membaca artikel ini sampai tuntas kiranya dapat menambah wawasan seputar ragam jenis Kipasan yang populasinya cukup banyak terdapat di Indonesia. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2015/05/01/kipasan-dada-hitam/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rufous_Fantail2_-_Christopher_Watson.jpg