Sunday, April 22, 2018

Mengulik Buah Sawo Sebagai Pakan Tambahan Untuk Burung Ocehan

Berbicara tentang buah Sawo mungkin hampir tidak ada dari kita yang tidak mengenal ataupun bahkan memakannya. Hal ini dirasa wajar sebab buah Sawo tergolong salah satu jenis buah-buahan yang paling banyak terdapat di pasar-pasar tradisional dan modern. Banyaknya yang menyukai buah Sawo tak terlepas dari rasanya yang manis dan tingginya kandungan air sehingga tubuh pun terasa segara. Walaupun demikian, buah Sawo pun ternyata juga bisa diberikan kepada burung ocehan sebagai pakan tambahannya. Karenanya penulis pun coba menguliknya lebih jauh lagi agar kita dapat mengetahui lebih banyak tentang buah Sawo sebagai pakan tambahan bagi burung ocehan.

Ya, buah Sawo merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan air cukup tinggi dengan tekstur daging lembut. Rasanya yang sangat manis tidak hanya untuk dimakan tapi juga ternyata mengandung banyak nutrisi didalamnya. Kandungan nutrisi tersebut cukup beragam yang terdiri dari kalsium, magnesium, fosfor, seng, tembaga, asam folat, vitamin (A, B, B6, dan C), natrium, niasi, dan riboflavin. Selain itu, buah Sawo tampak berbentuk agak oval dengan ukuran sedang dan memiliki tekstur kulit yang agak kasar tapi tidak keras atau tebal sehingga bisa dikupas cukup menggunakan gigi saja.
Buah Sawo
Disamping itu, buah Sawo yang rasanya manis ini juga ternyata mengandung beragam khasiat atau manfaat yang baik bagi kesehatan kita. Nah, manfaat-manfaat tersebut tentunya tidak hanya membuat tubuh menjadi segar tapi juga membantu dalam pembentukan sel darah merah, bisa menyehatkan tulang, menjaga kesehatan mata, mengobati sariawan, dan menjaga penuaan pada wajah. Walaupun demikian sebaiknya memang memilih buah Sawo yang sudah matang agar tidak terkena getah yang ada dibagian lapisan kulitnya.
Baca juga:
Khasiat yang terkandung pada buah Sawo ternyata juga bisa dinikmati oleh beragam burung ocehan yang menyantapnya. Ya, buah Sawo dapat diberikan sebagai pakan tambahan bagi burung ocehan dikarenakan sangat membantu dalam mendorong agar burung semakin rajin berkicau. Khasiat lainnya tentu mampu menjaga staminanya agar tidak mudah lelah atau capai saat sering berlatih berkicau. Jenis burung ocehan yang bisa diberikan buah Sawo sebenarnya tidak ada kriterianya tapi biasanya yang mau menyantapnya hanya pemakan buah dan sayuran saja seperti burung Kacamata ataupun Cucak-cucakan. Selain bisa diberikan kepada burung ocehan dewasa juga disajikan bagi burung muda bakalan tangkaran ataupun hasil tangkapan hutan.

Nah, mengingat buah Sawo hanya bersifat sebagai pakan tambahan maka ada baiknya kita jangan memberikannya secara rutin atau hingga tiap hari kepada burung ocehan. Hal ini dikarenakan adanya kandungan getah di bagian area permukaan daging buah bisa berdampak buruk bagi sistem pencernaan burung ocehan. Untuk itu, buah Sawo dapat disajikan maksimal dua kali dalam seminggu dengan takaran hanya seperempat dari total satu buah Sawo. Selain itu, pilihlah buah yang kondisinya sudah matang dengan tekstur daging yang lembut dan sebaiknya mengupas kulitnya terlebih dahulu lalu mencuci buah dengan air bersih yang mengalir.

Yup, sampai sinilah ulasan seputar buah Sawo yang menjadi pakan tambahan bagi burung ocehan pemakan buah-buahan ataupun sayuran. Hanya saja, sebelum memberikan buah Sawo maka ada baiknya diperhatikan terkait dengan tingkat kematangan buah dan takarannya agar manfaat yang disebutkan bisa merasuk ke dalam tubuh burung ocehan Anda. Okey.

Referensi Tulisan:
1. https://omkicau.com/2013/07/31/sawo-untuk-burung-pemakan-buah-nektar/
2. https://www.khasiat.co.id/buah/sawo.html

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sawo_penampang_Pj_DSC_0227.jpg

Saturday, April 21, 2018

Ragam Manfaat Cacing Tanah Untuk Burung Ocehan

Jenis pakan hidup yang umumnya diberikan kepada burung ocehan tergolong cukup banyak atau beragam.  Jenis pakan hidup tersebut terdiri dari jangkrik, belalang, ulat, dan ikan guppy. Kesemua jenis pakan tersebut mengandung ragam nutrisi yang memberikan banyak manfaat atau khasiat bagi burung ocehan yang menyantapnya. Akan tetapi, terdapat jenis pakan hidup lainnya yang juga memiliki ragam manfaat dan baik dikonsumsi burung ocehan. Adapun nama jenis pakan hidup tersebut adalah Cacing Tanah.

Cacing Tanah tergolong hewan invetebrata (tidak memiliki tulang belakang) yang sudah umum dikenal hampir semua orang di dunia. Hewan yang berukuran panjang dengan bentuk mirip tabung ini yang berasal dari kelas Oligochaeta dan memiliki beragam jenis familia. Hanya saja, biasanya yang dikenal orang-orang kebanyakan berasal dari famili Megascilicidae dan Lumbricidae. Padahal jumlah total famili Cacing Tanah yang tersebar di seluruh negara sebanyak 21 jenis.
Cacing Tanah Jenis Lumbricus Rubellus
Cacing Tanah yang tempat hidupnya berada di bagian dalam tanah ini ternyata memiliki manfaat dalam menguraikan benda-benda organik yang berada di dalam ataupun atas permukaan tanah. Dampaknya tentu membuat kontur tanah menjadi gembur dan subur untuk ditanami berbagai jenis tumbuhan dan pepohonan. Selain itu, hewan yang memiliki kelamin ganda ini juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang diberikan kepada unggas dan ikan peliharaan di kolam. Akan tetapi, ternyata Cacing Tanah pun juga bisa dijadikan pakan tambahan untuk burung ocehan.

Ya, memberikan Cacing Tanah sebagai pakan burung ocehan tentunya sudah lama dilakukan oleh para penghobies diberbagai negara. Hal ini tentu tak terlepas dari tingkat kandungan proteinnya yang cukup tinggi hingga mencapai hampir 72 persen. Hanya saja, Cacing Tanah yang disarankan menjadi pakan burung ocehan sebaiknya yang masih hidup. Sebab bila Cacing yang diberikan ternyata sudah mati biasanya akan tercium aroma amis yang menyengat dan mungkin telah dipenuhi bakteri berbahaya maka bisa berdampak buruk bagi kesehatan burung ocehan yang menyantapya.
Baca juga:
Disamping itu, jenis Cacing Tanah yang bisa dijadikan pakannya pun hanya beberapa jenis saja mulai dari jenis Cacing Merah (Lumbricus Rabbelus), Cacing Bayam (Eisenia Sp), Cacing Tanah (Lumbricus Terestris), dan Cacing Fosfor (Lumbricus SP). Hal ini dikarenakan keempat jenis Cacing Tanah itulah yang paling umum diberikan sebagai pakan tambahan dan banyak juga yang sudah membudidayakannya sehingga tidak perlu takut dengan jaminan kesehatannya.

Nah, begitu juga dengan khasiat atau manfaat yang diterima burung ocehan saat sesudah mengkonsumsinya cukup beragam yang meliputi: mampu menormalkan birahi, dapat menggenjot nafsu makan, memperindah suara kicauan, membuat burung rajin berkicau, dan memenuhi kelengkapan nutrisi di tubuhnya. Selain itu, cara pemberiannya bisa langsung ditaruh ke cepuk makanan per satu atau dua ekor dalam kondisi hidup. Dapat juga mengolahnya terlebih dahulu menjadi tepung cacing yang bisa dicampurkan ke dalam voernya. Hanya saja, mengingat Cacing Tanah bersifat pakan tambahan maka ada baiknya diberikan sekali sampai dua kali dalam satu minggu. Oke.

Referensi Tulisan:
1. https://omkicau.com/2016/09/26/cacing-merah-bisa-dimanfaatkan-untuk-mengatur-birahi-burung-kacer/
2. https://omkicau.com/2010/03/06/jenis-jenis-cacing-untuk-pakan-burung/
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_tanah

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Lumbricus_rubellus_HC1.jpg

Friday, April 20, 2018

Cucak Gunung, Si Burung Ocehan Endemik yang Mulai Terancam

Jenis burung Cucak-cucakan yang berasal dari keluarga Pycnonotidae tergolong jenis burung ocehan yang memiliki suara merdu dan nyaring. Kemerduan kicauannya tidak hanya membuat banyak yang tertarik untuk memelihara tapi juga turut digunakan untuk memaster jenis burung ocehan lainnya. Selain itu, ada salah satu jens burung Cucak-cucakan yang area persebarannya hanya terdapat di Indonesia atau dikenal sebagai burung endemik. Hanya saja, populasinya di alam liar sedang mengalami penurunan sehingga membuat statusnya menjadi Hampir Terancam. Karenanya penulis pun coba menguliknya lebih jauh lagi agar kita dapat mengenalnya. Dan namanya adalah burung Cucak Gunung.

Sebenarnya burung Cucak Gunung sudah cukup akrab atau dikenal luas oleh para penghobies di tanah air. Hanya saja, orang-orang biasa memanggilnya dengan nama burung Cucak Wilis. Sebagai burung endemik daerah yang menjadi area persebarannya hanya terbatas di wilayah Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali saja. Terbatasnya area persebaran mungkin juga dikarenakan jumlah sub-spesiesnya yang hanya terdiri dari tiga jenis mulai dari Snouckaerti, bimaculatus, dan tenggerensis.
Burung Cucak Gunung
Sedangkan di habitat aslinya biasanya burung Cucak Gunung mendiami area hutan dataran tinggi atau pegunungan dengan rentang 800 sampai 3000 meter dpl. Walaupun hidup di perbukitan dan pegunungan tapi kawanan burung ini lebih suka berada di area pinggir hutan atau ruang terbuka yang tidak terlalu banyak pepohonannya. Sewaktu mencari makanan seringnya dilakukan secara sendirian dengan menyantap buah-buahan dan serangga yang berukuran kecil. Akan tetapi terkait masa perkembangbiakannya tidak diketahui secara pasti terkait waktu dan jumlah telur yang dihasilkannya.
Baca juga:
Adapun ukuran tubuh burung yang bernama latin Pycnonotus bimaculatus tidak terlalu besar dengan panjang sekitar 20 sentimeter. Dan ciri fisik lainnya dapat dibaca uraiannya di bawah ini:
  • Terdapat warna cokelat yang menutupi sebagian besar anggota tubuhnya mulai dari mahkota kepala, tengkuk, punggung, sayap, ekor, tenggorokan, dan pangkal dadanya.
  • Warna oranye hanya tampak dibagian atas mata berupa garis tebal yang mirip alis mata.
  • Warna kuning tua terlihat dibagian sisi wajah, dekat ujung sayap, dan tunggirnya.
  • Terlihat juga warna putih yang hanya terdapat dibagian perut hingga batas pangkal tungginya.
  • Paruhnya yang berwarna hitam pekat berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  • Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang cukup tajam.
  • Ekornya yang berwarna kecokelatan berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  • Kakinya yang berwarna hitam keabu-abuan berukuran sedang.
Nah, sebagai burung ocehan yang sudah akrab dikenal banyak orang tentunya dikarenakan suara kicauan yang dimilikinya tergolong merdu dan nyaring. Ya, suara kicauannya terdengar agak melengking dengan volume yang cukup tinggi atau kencang. Tempo kicauannya agak rapat dan ngerol dengan bunyi seperti “cak... cakk... cuhh... ciulkk.. ciuulkk”. Selain itu, sewaktu dipelihara burung Cucak Gunung juga dapat dilatih dengan menggunakan suara kicauan burung lain. Dan burung Cucak Gunung juga bisa dijadikan burung masteran agar burung ocehan yang dilatih memiliki suara kicauan yang bervariasi dan terdengar lantang. Hanya saja, mengingat populasinya di alam liar sedang mengalami penurunan maka ada baiknya memang kita tidak perlu menangkap di hutan tapi bisa dibeli dari hasil budidaya atau tangkaran.

Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2011/11/26/cucak-gunung/
2. https://www.hbw.com/species/orange-spotted-bulbul-pycnonotus-bimaculatus#Descriptive_notes

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Orange-spotted_Bulbul_(Pycnonotus_bimaculatus)_-_Flickr_-_Lip_Kee_(1).jpg

Lebih Dekat Mengenal Burung Kerak Ungu

Jenis burung Jalak tergolong cukup banyak digemari para penggemar burung ocehan tidak hanya di tanah air tapi juga diberbagai negara. Banyaknya yang menyukai jenis burung Jalak mungkin tak terlepas dari suara kicauannya yang terdengar nyaring dan cukup lantang. Selain itu, karakternya pun dikenal cukup lincah dan tergolong burung yang pintar dalam meniru berbagai jenis suara. Begitu juga jenisnya yang terdapat di wilayah hutan Indonesia tergolong beragam. Karenanya pada tulisan ini sengaja untuk mengulik salah satu di antaranya agar semakin banyak yang mengenalinya. Dan nama burung Jalak tersebut adalah burung Kerak Ungu.

Burung Kerak Ungu merupakan salah satu dari beragam jenis burung jalak-jalakan yang berasal dari keluarga Stumidae. Kehidupannya di alam liar biasanya berada di area terbuka dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian mencapai 1525 meter dpl. Area tempat tinggalnya terletak tidak jauh dari pemukiman masyarakat yang masih terdapat pepohonan rindang ataupun padang rumput yang cukup luas. Hal ini diketahui dari sarang yang dibangunnya terkadang diletakkan pada celah-celah gedung dan ditaruh di atas batang pohon saat memasuki masa berkembangbiak.
Burung Kerak Ungu
Adapun saat mencari makanan biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam jumlah yang tidak terlalu besar dengan mengunjungi pepohonan atau rerumputan. Jenis makanan yang dimakannya pun cukup bervariasi atau tergolong burung omnivora yang menyantap serangga, tokek, cicak, kadal, katak, anakan burung lain, tikus, cacing, siput, buah-buahan, nektar bunga, dan biji-bijian. Akan tetapi, waktu berkembangbiak yang dijalaninya berbeda-beda di tiap tempat dengan jumlah telur rata-rata sekitar enam butir.

Sedangkan area persebaran burung Kerak Ungu terdapat diberbagai belahan negara dunia mulai dari Afganistan, Tiongkok, Turkmenistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Iran, India, Nepal, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, dan Indonesia. Hanya saja, keberadaannya di Indonesia banyak berasal dari hasil dilepasliarkan atau introduksi dan ditambah kemampua adaptasinya tergolong bagus sehingga tidak kalah dengan burung Jalak lokal yang berada di dekatnya.
Baca juga:
Disamping itu, ukuran fisik burung yang bernama latin Acridotheres Tristis ini tidak terlalu besar dengan panjang hanya sekitar 24 cm saja. Dan untuk ciri fisik lainnya dapat dibaca uraiannya di bawah ini:
  1. Tampak berwarna hitam yang menutupi bagian mahkota kepala, sisi wajah, tenggorokan, tepi sayap, dan ekornya. 
  2. Terlihat juga warna cokelat tua dibagian punggung, sayap, dada, perut, sampai tunggirnya. 
  3. Pada area sekitar matanya terlihat tidak ditumbuhi bulu-bulu dan berwarna kekuningan.
  4. Tampak juga warna putih yang hanya terdapat dibagian sisi pinggir pangkal sayapnya.
  5. Paruhnya yang berukuran sedang terlihat agak tebal dengan warna kekuningan.
  6. Begitu juga dengan kakinya yang juga berwarna kekuningan dengan ukuran agak panjang dan tampak berisi atau berotot.
Suara kicauan burung yang akrab dipanggil Jalak Nias ini terdengar cukup nyaring dan agak melengking. Volumenya tergolong lumayan tinggi dengan tempo yang agak cepat seperti suara crecetan. Nada kicauannya terdengar lantang, ngebas, dan irama mengalun-alun yang berdurasi cukup lama hingga mencapai satu menitan. Selain itu, burung Kerak Ungu juga pandai menirukan suara burung ocehan lain yang dipadu dengan suara bawaannya. Karenanya, suara kicauan yang dimiliki burung Kerak Ungu terkadang dimanfaatkan untuk memaster jenis burung ocehan atau hanya sekedar memancing agar semakin rajin berkicau saat dibawa ke arena perlombaan.

Referensi Tulisan:
1. https://omkicau.com/2014/12/20/download-variasi-suara-kicauan-burung-jalak-nias-untuk-masteran/
2. http://www.kutilang.or.id/2012/04/26/kerak-ungu/
3. https://www.hbw.com/species/common-myna-acridotheres-tristis#Descriptive_notes

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Acridotheres_tristis_-Sydney,_Australia-8.jpg

Thursday, April 19, 2018

Kancilan Bakau, Si Burung Ocehan Mungil Yang Bersuara Nyaring

Jenis burung ocehan yang memiliki suara merdu dan nyaring tidak hanya didominasi oleh berpostur tubuh yang sedang saja. Sebab banyak diantara jenis burung ocehan yang ukuran tubuhnya lumayan kecil atau mungil juga mempunyai kualitas suara kicauan yang tak kalah nyaring dan lantang. Jenis-jenis burung ocehan tersebut pun cukup beragam mulai dari burung Kacamata atau Pleci, Pelanduk Semak, Wergan Jawa, dan Kancilan Bakau. Karenanya pada artikel ini akan mengulas salah satu di antaranya yang keberadaannya di Indonesia tersebar merata. Dan nama adalah burung Kancilan Bakau.

Burung Kancilan Bakau termasuk salah satu dari beragam jenis burung Kancilan yang penyebarannya tidak hanya terdapat di Indonesia. Secara global area persebaran burung Kancilan Bakau terdapat di kawasan negara India, Myanmar, Vietnam, Filipina, Kamboja, Laos, dan Indonesia. Begitu juga dengan daerah di Indonesia yang dijadikan rumahnya pun tak kalah luas mulai dari Sumatera, Pulau Nias, Kepulauan Riau, Simeulue, Kepulauan Batu, Siberut, Pagai selatan, Bangka, Belitung, Kalimantan, Pulau Karimata, Jawa, Kepulauan Natuna, Kepulauan Kangean, Bali, dan Lombok.
Burung Kancilan Bakau di Alam Liar
Walaupun area persebaran burung yang bernama latin Pachycephala grisola ini tergolong lumayan luas tapi jumlah sub-spesiesnya hanya sebanyak dua jenis saja. Sewaktu di alam liar biasanya menempati area dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian sekitar 900 meter dpl. Jenis hutan yang ditinggalinya berada cukup jauh dari pemukiman masyarakat berupa hutan di sekitar pantai, hutan mangrove, hutan cemara, hutan bambu, dan rumpun bambu. Karakternya pun dikenal cukup pemalu dengan lebih suka menyembunyikan dirinya dibalik rimbunnya pepohonan.

Selain itu, pada saat mencari makan biasanya burung Kancilan Bakau biasanya bergerak secara sendirian ataupun terkadang bergabung dengan jenis burung lain. Jenis makanan yang menjadi pakan pokoknya berupa serangga yang berukuran kecil sampai sedang. Saat memasuki masa berkembangbiak yang berlangsung sekitar bulan Maret sampai juni biasanya akan membangun sarang dengan bentuk mirip mangkuk kecil. Sarang tersebut diletakkan pada bagian cabang pohoh yang cukup tinggi dan mampu menampung telur yang dierami indukan sebanyak dua butir.
Baca juga:
Adapun ciri fisik burung Kancilan Bakau tergolong lumayan kecil dengan panjang maksimal hanya sekitar 14 sentimeter saja. Dan ciri fisik lainnya dapat disimak di bawah ini:

  1. Terdapat warna cokelat tua yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Terlihat juga warna putih keabu-abuan yang menutupi bagian bawah tubuhnya yang meliputi tenggorokan, dada, perut, hingga ke bagian tunggirnya.
  3. Paruhnya berwarna hitam pekat yang berukuran sedang dan terlihat agak tebal.
  4. Ekornya juga berukuran sedang dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebar. 
  5. Matanya yang berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dengan sorot yang agak tajam. 
  6. Lalu kakinya yang juga berwarna hitam pekat berukuran sedang dengan cakar yang tajam.

Sedangkan suara kicauan yang dimiliki burung Kancilan Bakau tergolong nyaring dan lumayan lantang. Kicauan nyaringnya dibunyikan dengan volume yang cukup tinggi sehingga terdengar melengking. Suara kicauannya pun cukup berirama dengan nada naik-turun yang dibunyikan secara beraturan. Karenanya, burung Kancilan Bakau sangat cocok dipakai untuk memaster jenis burung ocehan lainnya agar suara kicauannya juga terdengar nyaring dan lantang. Selain itu juga bisa dipergunakan untuk memancing agar burung cepat mengeluarkan suara kicauannya.

Referensi Tulisan:
1. https://www.hbw.com/species/mangrove-whistler-pachycephala-cinerea
2. http://www.kutilang.or.id/2012/06/18/kancilan-bakau/

Rerefensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Mangrove_Whistler.jpg

Saturday, February 3, 2018

Mengulik Lebih Dalam Burung Jalak Tiongkok

Berbicara tentang burung Jalak mungkin tidak ada dari kita yang belum mengenal ataupun melihatnya secara langsung di depan mata. Ya, hal ini dikarenakan jenis burung Jalak tergolong cukup banyak digemari orang-orang dengan banyaknya yang memelihara dan terkaang diikutkan dalam perlombaan. Alasan yang mendasar banyaknya yang menyukai jenis burung Jalak disebabkan suara kicauannya yang nyaring dan kemampuannya menirukan suara burung lain. Karenanya pada artikel ini coba menjelaskan salah satu dari delapan jenis burung Jalak yang berada di Indonesia. Adapun namanya adalah burung Jalak Tiongkok.

Ya, burung Jalak Tiongkok bukanlah termasuk jenis burung penetap yang berhabitat di Indonesia. Melainkan burung Jalak Tiongkok ini tergolong burung migrasi yang hanya berkunjung ke wilayah hutan kita saat musim dingin melanda negara yang menjadi habitat aslinya. Negara yang menjadi tempat bagi burung Jalak ini berkembang biak berada cukup jauh dari negara kita yakni di Nepal (pegunungan Himalaya) dan Tiongkok. Negara-negara yang menjadi tujuannya bermigrasi pun hanya berada di kawasan Asia Tenggara.
Burung Jalak Tiongkok di alam liar
Penyebaran burung Jalak Tiongkok di wilayah Indonesia hanya terdapat di daerah Pulau Sumatera dan Jawa saja. Area lahan yang menjadi habitatnya pun tersebar merata mulai dari dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian mencapai 1100 meter di atas permukaan laut. Saat mencari makanan biasanya dengan berada di atas tanah sambil mematuki dedaunan kering dan tanah. Jenis makanan yang umumnya disantapnya tergolong bervariasi seperti serangga kecil, cacing, buah-buahan, dan, biji-bijian. Selain itu, musim berkembangbiak yang dijalani burung Jalak Tiongkok biasanya berlangsung di negara asalnya yang terjadi sekitar bulan Mei sampai Juni dengan jumlah telur sekitar enam butir.
Baca juga:
Disamping itu, burung Jalak Tiongkok memiliki nama lain yang sudah umum dikenal para penggemar burung Jalak yakni burung Jalak Kapas. Ukuran fisiknya tergolong sedang dengan panjang sekitar 18 cm saja. Corak warna bulunya terdapat perbedaan yang sebenarnya tidak terlalu mencolok antara jantan dan betinanya. Adapun penjelasannya bisa disimak di bawah ini:

Burung Jalak Tiongkok Jantan
  • Berwarna hitam mengkilap yang agak keunguan menutupi area atas tubuhnya mulai dari punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna abu-abu kusam tampak disebagian besar area tubuhnya seperti mahkota kepala, tengkuk, tenggorokan dan dadanya.
  • Warna putih yang terlihat dibagian sisi pangkal sayap, punggung belakang, dan perutnya.
  • Matanya berwarna hitam yang berukuran sedang dengan bentuk bulat.
  • Paruhnya berwarna kehitaman yang berukuran sedang dan agak runcing.
  • Kakinya berwarna abu-abu kehitaman yang berukuran sedang dan tampak agak tebal.
Burung Jalak Tiongkok Betina
  • Berwarna abu-abu kehitaman kusam yang menutupi area punggungnya.
  • Terdapat bintik-bintik berwarna cokelat di area tengkuknya.
  • Berwarna abu-abu biasa yang terdapat di bagian mahkota kepala, tengkuk, tenggorokan, dan dadanya. 
  • Berwarna hitam yang tampak dibagian sayap dan ekornya.
  • Berwarna putih yang menutupi area sayap, perut, tunggir, dan bawah sayapnya.
Nah, ciri suara kicauan burung yang bernama latin Sturnus sturninus ini dikenal tidak semerdu kicauan jenis Jalak lainnya. Kicauan yang dibunyikannya terdengar parau dan serak dengan volume yang cukup tinggi. Tempo kicauannya tergolong sedang dengan nada yang pendek dan diulangi secara terus-menerus.

Jadi, tidak banyak yang bisa dituliskan lagi seputar burung Jalak Tiongkok yang merupakan burung migrasi dengan hidup berkoloni bersama kawanannya. Dan bila Anda tertarik dengan burung Jalak Tiongkok mungkin bisa mencarinya di pasar burung ocehan yang ada di wilayah kota Anda. Okey.

Referensi Tulisan:
https://omkicau.com/2013/08/12/jalak-kapas-sering-bermigrasi-ke-indonesia/
http://www.kutilang.or.id/2012/04/24/jalak-cina/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:The_Daurian_Starling_by_Antony_Grossy.jpg

Kerakbasi Ramai, Si Burung Pengicau yang Kurang Terkenal

Mendengar nama burung Kerakbasi Ramai pastinya banyak dari Anda yang belum pernah melihatnya secara langsung di alam liar. Apalagi bila ditanyakan seputar ciri fisik, habitat, dan ciri kicauannya tentunya hanya sedikit sekali yang mengetahuinya. Ya, hal ini dikarenakan burung Kerakbasi Ramai memang bukan termasuk jenis burung ocehan yang banyak dipelihara maupun sering diikutkan dalam perlombaan. Walaupun demikian suara kicauan yang dimilikinya juga terdengar tak kalah merdu dan bahkan dapat dimanfaatkan untuk memaster burung ocehan lainnya.

Jenis burung Kerakbasi Ramai merupakan salah satu dari tiga jenis burung Kerakbasi yang terdapat di Indonesia. Keberadaan burung yang berwarna kecokelatan ini tidak hanya terdapat di area hutan kita tapi juga tersebar diberbagai belahan negara Asia lainnya. Negara-negara yang habitatnya dihuni oleh burung Kerakbasi Ramai tergolong cukup luas yang meliputi Mesir, Sudan, Somalia, Semenanjung Arab, Kazakhstan, Irak, Iran, India, Tiongkok, Myanmar, Srilanka, dan Filipina. Selain itu, daerah di Indonesia yang menjadi habitatnya juga tergolong tak kalah luas yang mencakup area Pulau Jawa, Kalimantan, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Maluku, Timor, dan Papua.
Burung Kerakbasi Ramai di alam liar
Di alam liar biasanya habitat yang menjadi rumah bagi burung Kerakbasi Ramai berada di dataran rendah dan tidak jauh dari pemukiman masyarakat. Area yang sering ditinggalinya berada di area rawa-rawa yang berbuluh, persawahan, dan hutan mangrove. Saat mencari makanan dilakukan sendirian atau berpasangan dengan bertengger pada batang buluh atau kayu untuk memantau mangsanya dan beristirahat. Jenis makanan yang disantapnya pun tidak terlalu beragam hanya berupa serangga-serangga yang berukuran kecil. Saat memasuki masa kawin atau berkembangbiak biasanya sang indukan akan membangun sarangnya yang berbentuk cawan dengan menggunakan rumput kering dan pelepah buluh. Waktu berkembangbiaknya pun berlangsung sekitar April hingga Agustus dengan telur berjumlah sekitar empat butir.

Ukuran fisik burung yang bernama latin Acrocephalus Stentoreus ini tidak terlalu besar hanya sekitar 18 cm saja. Dan ciri lainnya dari burung Kerakbasi Ramai ini dapat dibaca uraiannya di bawah ini:
  • Berwarna cokelat yang tampak dibagian atas tubuhnya seperti mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  • Warna putih kecokelatan terlihat diarea bawah tubuhnya yang meliputi area tenggorokan, dada, perut, tunggir, dan ekornya. 
  • Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berbentuk bulat dan memiliki sorot yang cukup tajam.
  • Paruhnya berwarna hitam yang berukuran sedang dan tampak runcing. 
  • Ekornya yang berwarna cokelat berukuran lumayan panjang yang jarang sekali terlihat dikembangkannya.
  • Kakinya berwarna hitam keabu-abuan berukuran agak panjang dengan cakar yang tajam dan tampak kurus.

Nah, kicauan yang dibunyikan burung Kerakbasi Ramai tergolong merdu dan agak melengking dengan volume yang lumayan tinggi. Pada awal kicauan terdengar agak parau yang lalu diikutkan iringan irama nyaring dan diakhiri suara deringan yang tidak terlalu panjang. Tempo kicauan yang dibunyikannya termasuk cukup rapat tapi tidak sampai seperti suara crecetan. Nada kicauannya terdiri dari beberapa jenis mulai dari “cakkk... cakkk”, “carr... carrr”, “kittt...kiitt” dan “cittt...ciitt”. 

Bagaimana? Menarik bukan penjelasan seputar burung Kerakbasi Ramai yang suara kicauannya terdengar tak kalah merdu dibanding jenis burung ocehan populer lainnya. Dan bagi Anda yang tertarik dengan burung Kerakbasi Ramai mungkin bisa membelinya di pasar burung ocehan yang ada di kota Anda.

Referensi Tulisan:
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_kerakbasi_ramai.htm
https://omkicau.com/2015/02/03/tiga-spesies-burung-kerakbasi-di-indonesia-dan-suaranya-untuk-masteran/3/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Clamorous_Reed_Warbler_Acrocephalus_stentoreus_by_Dr._Raju_Kasambe_DSCN1602_(15).jpg